Demi Anak-Anak Tapal Batas, Nur Syakira Rela Bangun Sebelum Subuh
Baca dalam 60 detik
- Nur Syakira, guru honorer asal Bone, mengabdikan diri di Sekolah Tapal Batas Darul Furqan, Pulau Sebatik, merawat 16 anak pekerja migran Indonesia di asrama.
- Rutinitasnya dimulai pukul 04.00: memasak, membangunkan anak asuh, hingga mendampingi belajar malam, sambil mengurus balitanya sendiri.
- Sekolah ini menjadi satu-satunya akses pendidikan bagi anak-anak PMI di perbatasan Indonesia-Malaysia, dengan fasilitas seadanya namun penuh dedikasi.

Setiap hari, sebelum fajar menyingsing di ufuk timur, seorang perempuan telah sibuk di dapur asrama, menanak nasi dan menyiapkan lauk untuk 16 anak yang dititipkan di Sekolah Tapal Batas Darul Furqan, di perbatasan Indonesia-Malaysia. Dialah Nur Syakira, guru honorer yang dua tahun lalu meninggalkan kampung halamannya di Bone, Sulawesi Selatan, untuk mengabdi di Pulau Sebatik, Kalimantan Timur.
Anak-anak itu adalah putra-putri pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di perkebunan sawit Malaysia. Tanpa kehadiran orang tua setiap hari, mereka tinggal di asrama sekolah yang juga menjadi tanggung jawab Syakira. Mulai dari membangunkan salat subuh, memastikan anak-anak mandi dan berseragam, hingga mengantar ke kelas, semua ia lakukan seorang diri. Di sela-sela itu, ia juga harus memandikan anak kandungnya yang masih berusia dua tahun, sementara suaminya berangkat ke Desa Aji Kuning sebagai buruh bangunan.
Sekolah Tapal Batas Madrasah Darul Furqan berdiri di kawasan perkebunan kelapa sawit, tepat di garis batas negara. Didirikan pada 2012 oleh Suraidah, yang kini telah pensiun, sekolah ini kemudian dikelola oleh Kementerian Agama. Fasilitasnya sederhana: lima bangunan kayu, dua ruang kelas sekat untuk kelas 1โ6, ruang guru, serta dua asrama putra dan putri. Namun, tempat ini menjadi satu-satunya harapan pendidikan formal bagi anak-anak PMI yang rentan putus sekolah.
Menurut Syakira, tanggung jawab yang diembannya tidak ringan. โAsrama telah menjadi rumah kedua. Di tengah kelelahan, saya jadikan pengabdian sebagai sumber kekuatan,โ ujarnya, sebagaimana dikutip dalam laporan Antara. Ia mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi ibu asuh bagi belasan anak, namun kini peran itu dijalaninya dengan ikhlas. Setelah pulang sekolah, ia kembali menyambut anak-anak untuk makan siang, mengajarkan mengaji, mendampingi murojaah maghrib, hingga menemani belajar pada malam hari โ semuanya sebelum akhirnya ia bisa beristirahat.
Kisah Syakira mencerminkan realitas pahit pendidikan di daerah perbatasan. Minimnya tenaga pengajar, keterbatasan infrastruktur, dan isolasi geografis membuat sekolah seperti Darul Furqan menjadi benteng terakhir bagi anak-anak PMI. Tanpa keberadaan guru honorer yang rela banting tulang, mereka bisa kehilangan hak dasar akan pendidikan dan berpotensi terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sama dengan orang tua mereka.
Ke depan, keberlangsungan Sekolah Tapal Batas masih bergantung pada komitmen negara dan swadaya masyarakat. Akankah pemerintah daerah memberikan perhatian lebih pada institusi pendidikan di titik-titik terpencil seperti ini? Atau akankah Nur Syakira dan guru-guru lain terus berjuang sendiri, tanpa kepastian status dan kesejahteraan?



