Mancini Kembali ke Timnas Italia: Kunci Raih Tiket Piala Dunia 2026?
Baca dalam 60 detik
- Federasi Sepak Bola Italia resmi menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih tim nasional untuk kedua kalinya, menggantikan posisi yang ditinggalkannya pada 2023.
- Mancini dihadapkan pada tantangan berat: mengulang sukses Euro 2020 sambil memperbaiki kegagalan lolos ke Piala Dunia 2022 yang menjadi noda hitam kariernya.
- Kembalinya pelatih 61 tahun itu disambut skeptis karena rekam jejak di Arab Saudi dan Al-Sadd tak secemerlang periode pertamanya di Italia.

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) kembali memercayakan kursi pelatih tim nasional kepada Roberto Mancini, pelatih yang membawa Gli Azzurri menjuarai Euro 2020. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Presiden FIGC Giovanni Malagò dalam konferensi pers, sekaligus menunjuk Claudio Ranieri sebagai direktur teknis menggantikan Paolo Maldini.
Kembalinya Mancini setelah tiga tahun hengkang ke timnas Arab Saudi dan melatih klub Al-Sadd menimbulkan tanda tanya besar. Meski ia adalah pelatih terakhir yang memberi Italia gelar, rekor terakhirnya di luar negeri tidak semenjanjukan periode pertamanya bersama Italia.
Pada masa jabatan sebelumnya (2018–2023), Mancini menorehkan rekor 38 laga tak terkalahkan beruntun—terpanjang di dunia saat itu—hingga akhirnya dipecahkan Spanyol. Ia memenangi 38 pertandingan, 12 hasil imbang, dan hanya delapan kekalahan. Namun, satu kegagalan besar membayangi: gagal lolos ke Piala Dunia 2022 setelah kalah play-off dari Makedonia Utara. Kegagalan itu membuat Italia absen dua pesta sepak bola dunia berturut-turut.
Setelah mundur pada Agustus 2023, Mancini menangani Arab Saudi selama setahun lebih, lalu pindah ke klub Qatar Al-Sadd sejak November 2025 hingga Juni 2026. Kini ia kembali ke pangkuan negaranya dengan target jelas: membawa Italia lolos ke Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Bagi pencinta sepak bola Indonesia, kembalinya Mancini menjadi sorotan tersendiri. Liga Italia (Serie A) memiliki basis penggemar kuat di Tanah Air, dan gaya permainan Italia kerap menjadi referensi bagi pengembangan taktik lokal. Keberhasilan Mancini mengorbitkan pemain muda seperti Nicolò Barella dan Federico Chiesa di periode sebelumnya menjadi contoh bagi pembinaan usia muda di Indonesia. Jika Mancini sukses membawa Italia ke Piala Dunia 2026, itu akan memperkuat citra Serie A sebagai liga yang menghasilkan talenta kelas dunia.
Di tengah skeptisisme, Mancini harus membuktikan bahwa dirinya masih mampu bersaing di level tertinggi. Ia mewarisi skuad berbakat seperti Gianluigi Donnarumma, Nicolò Zaniolo, dan Sandro Tonali, namun persaingan di grup kualifikasi Eropa tidak akan mudah. Italia tergabung dalam Grup C bersama Norwegia, Israel, Estonia, dan Moldova—lawan-lawan yang patut diwaspadai.
Pertanyaan besarnya: akankah Mancini mampu mengulang keajaiban Euro 2020 atau justru kembali gagal di jalur kualifikasi? Dengan usia yang tak lagi muda, peluang Mancini untuk memperbaiki catatannya di Piala Dunia sangat terbatas. Semua mata kini tertuju pada bagaimana ia mengelola tekanan dan ambisi skuad Azzurri yang haus akan panggung dunia.



