India Protes Keras ke AS Setelah Tiga Kapal Dagangnya Diserang di Teluk Oman
Baca dalam 60 detik
- India memanggil kuasa usaha AS di New Delhi untuk menyampaikan protes resmi terkait serangan terhadap kapal-kapal berbendera asing yang diawaki pelaut India di Teluk Oman.
- Tiga pelaut India tewas dalam insiden penembakan oleh militer AS yang tengah memberlakukan blokade laut terhadap Iran, memicu kekhawatiran akan keselamatan pelayaran niaga internasional.
- Serangan beruntun dalam empat hari terakhir menimbulkan pertanyaan tentang eskalasi konflik di kawasan dan dampaknya terhadap rantai pasok global, termasuk Indonesia.

India secara resmi menyampaikan protes keras kepada Amerika Serikat setelah tiga kapal dagang yang membawa awak kapal asal India menjadi sasaran tembakan militer AS di Teluk Oman dalam kurun waktu empat hari. Langkah diplomatik ini ditempuh setelah tiga pelaut India tewas dalam insiden yang oleh Kementerian Luar Negeri India disebut sebagai penggunaan kekuatan mematikan yang tidak proporsional terhadap kapal sipil.
Kuasa usaha AS di India, Jason Meeks, dipanggil ke Kementerian Luar Negeri di New Delhi pada Jumat (12/6) untuk menerima nota protes. Dalam pernyataan resmi, pemerintah India menegaskan bahwa tindakan militer AS terhadap kapal-kapal niaga yang membawa pelaut India tidak dapat diterima dan mengancam stabilitas perdagangan maritim internasional. “Protes keras telah disampaikan terkait serangan berkelanjutan oleh angkatan laut AS terhadap kapal komersial yang membawa pelaut India di Teluk Oman, yang telah mengakibatkan hilangnya tiga nyawa secara tragis dan seharusnya bisa dihindari,” demikian bunyi pernyataan kementerian.
Insiden pertama terjadi pada Rabu (10/6) ketika kapal berbendera Palau, Settebello, yang mengangkut aspal, dihantam oleh militer AS di lepas pantai Oman. Tiga awak kapal asal India tewas dalam peristiwa itu. Dua hari kemudian, kapal tanker aspal Jalveer berbendera Guinea-Bissau diserang di dekat Pelabuhan Shinas, Oman. Sebelumnya, pada 8 Juni, kapal tanker minyak Marivex yang juga berbendera Palau menjadi sasaran. Seluruh insiden terjadi di tengah operasi blokade laut yang dilakukan AS terhadap Iran.
Kementerian Luar Negeri India menekankan bahwa tindakan semacam itu merusak keselamatan, keamanan, dan stabilitas perdagangan maritim internasional di kawasan yang sensitif. “Ini adalah tindakan yang tidak dapat diterima dan melemahkan stabilitas di saat yang sulit,” tambah pernyataan tersebut. Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, melalui media sosial menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan mengkritik serangan terhadap kapal-kapal India. “Kami menyampaikan simpati kepada keluarga dan teman-teman pelaut India yang tewas, serta belasungkawa tulus kepada rakyat dan pemerintah India,” tulisnya.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik di Teluk Oman menjadi perhatian serius. Sebagai negara maritim dengan lalu lintas kapal niaga yang padat di jalur perdagangan internasional, Indonesia rentan terhadap dampak ketidakstabilan keamanan laut. Serangan terhadap kapal-kapal dagang tidak hanya mengancam keselamatan awak kapal, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok komoditas energi dan barang lainnya yang melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dan memperkuat koordinasi dengan mitra internasional untuk menjaga keamanan pelayaran di kawasan.
Ke depan, langkah India memanggil perwakilan AS menunjukkan bahwa New Delhi tidak akan tinggal diam terhadap ancaman terhadap warganya. Pertanyaan yang muncul adalah apakah AS akan mengubah taktik blokadenya atau justru meningkatkan tekanan terhadap Iran, yang dapat memicu eskalasi lebih lanjut. Bagi komunitas maritim global, insiden ini menjadi pengingat bahwa konflik bersenjata di kawasan strategis dapat berdampak langsung pada keselamatan pelaut dan kelancaran perdagangan dunia.



