Prabowo dan Steinmeier Sepakat Buka Pintu Lebar Tenaga Kerja RI ke Jerman: Teknologi Tinggi hingga Keperawatan
Baca dalam 60 detik
- Indonesia dan Jerman menandatangani nota kesepahaman Global Skills Partnership yang membuka akses tenaga kerja Indonesia di sektor keperawatan dan teknologi tinggi.
- Kesepakatan ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kompetensi SDM Indonesia sekaligus menjawab kebutuhan tenaga kerja Jerman yang menua.
- Program kemitraan UMKM dan investasi melalui JEIC ke-2 pada 2026 di Indonesia akan memperkuat daya saing pelaku usaha lokal.
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menyepakati penguatan kemitraan tenaga kerja di sektor teknologi tinggi dan keperawatan dalam pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (15/6/2026). Kesepakatan ini membuka peluang lebih luas bagi tenaga kerja Indonesia untuk mengisi posisi strategis di Jerman, sekaligus memperkuat hubungan diplomatik kedua negara menjelang peringatan 75 tahun hubungan bilateral pada 2027.
Penandatanganan Letter of Intent (LoI) mengenai Global Skills Partnership di bidang keperawatan menjadi salah satu poin utama dalam pertemuan tersebut. Presiden Prabowo menyatakan apresiasi atas komitmen Jerman untuk menerima tenaga kerja Indonesia di sektor kesehatan, yang selama ini menjadi salah satu bidang dengan permintaan tinggi di Eropa. "Di bidang tenaga kerja kesehatan, kami sangat apresiasi penandatanganan LoI mengenai Global Skills Partnership di bidang keperawatan. Indonesia juga ingin memperluas peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia di Jerman termasuk di sektor teknologi tingkat tinggi," ujar Prabowo dalam pernyataan resmi.
Selain sektor formal, pertemuan kedua kepala negara juga menghasilkan penguatan kerja sama untuk pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemerintah Indonesia menyambut baik implementasi program Partnering in Business with Germany yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha nasional. Program ini akan ditindaklanjuti melalui penyelenggaraan Joint Economic and Investment Committee (JEIC) ke-2 yang dijadwalkan berlangsung di Indonesia pada 2026. Skema Competitiveness Industrial Modernization and Trade Acceleration Program (CITA) juga terus berjalan sebagai bagian dari kemitraan komprehensif kedua negara.
Kemitraan ini tidak hanya berdampak pada pasar tenaga kerja, tetapi juga pada sektor investasi dan perdagangan. Jerman merupakan mitra dagang terbesar Indonesia di Uni Eropa, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai USD 8,5 miliar pada 2025. Dengan adanya kesepakatan baru, aliran investasi Jerman ke Indonesia diperkirakan meningkat, terutama di bidang industri teknologi tinggi dan energi hijau. Bagi pelaku UMKM Indonesia, program Partnering in Business with Germany menawarkan akses ke pasar Eropa yang lebih luas melalui pendampingan dan sertifikasi produk.
Pertemuan bilateral ini juga membahas transisi energi dan ketahanan energi, dua isu yang menjadi prioritas pemerintah Indonesia. Jerman, yang telah sukses melakukan Energiewende (transisi energi), berbagi pengalaman dalam pengembangan energi terbarukan. Kerja sama ini diharapkan mempercepat target Indonesia mencapai netralitas karbon pada 2060.
Ke depan, implementasi kesepakatan ini akan diawasi melalui forum bilateral yang sudah ada. Pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana kesiapan infrastruktur pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja Indonesia untuk memenuhi standar Jerman. Jika berjalan lancar, kemitraan ini bisa menjadi model bagi kerja sama serupa dengan negara-negara Eropa lainnya.



