Juventus Tunjuk Carnevali sebagai Arsitek Baru: Bisakah Ia Ulang Sukses Sassuolo?
Baca dalam 60 detik
- Giovanni Carnevali resmi menjabat General Manager dan CEO Juventus, menggantikan Damien Comolli yang hanya bertahan setahun.
- Pria di balik transformasi Sassuolo menjadi klub model Italia ini dihadapkan pada tugas berat mengembalikan kejayaan Bianconeri.
- Kedekatan Carnevali dengan tokoh seperti Marotta dan De Zerbi menjadi modal strategis dalam merombak struktur klub.

Giovanni Carnevali, arsitek di balik kebangkitan Sassuolo sebagai salah satu klub paling disiplin di Italia, kini menerima tantangan terbesar dalam kariernya: memulihkan kejayaan Juventus yang tengah terpuruk.
Jumat pagi waktu setempat, Juventus mengumumkan penunjukan Carnevali sebagai General Manager dan CEO anyar, mengakhiri masa bakti Damien Comolli yang hanya berlangsung satu musim di Allianz Stadium. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya raksasa Turin itu membangun kembali fondasi klub setelah serangkaian kegagalan di level domestik dan Eropa.
Carnevali bukanlah nama asing di sepak bola Italia. Sebelumnya, ia sukses membangun Sassuolo dari klub kecil menjadi tim papan atas yang dikenal dengan manajemen keuangan sehat dan pengembangan pemain muda. Prestasi itu membuatnya dilirik sebagai figur yang tepat untuk menangani kekacauan di Juventus, yang dalam beberapa tahun terakhir kehilangan identitas permainan dan daya saing di Serie A.
Kedekatan Carnevali dengan dua figur kunci—Beppe Marotta, mantan CEO Juventus yang kini di Inter, dan Roberto De Zerbi, pelatih Brighton yang sempat dikaitkan dengan kursi panas Bianconeri—menjadi sorotan. Banyak pengamat menilai bahwa koneksi ini bisa menjadi pintu masuk bagi De Zerbi untuk kembali ke Italia, atau setidaknya menjadi jembatan negosiasi dengan pemain-pemain incaran. Namun, tugas utama Carnevali tetap pada restrukturisasi manajemen dan pengembalian stabilitas finansial klub.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan ini menarik karena Juventus memiliki basis suporter yang besar di Tanah Air. Kehadiran Carnevali diharapkan mampu mengembalikan daya tarik klub di pasar Asia, terutama dalam hal perekrutan pemain dan strategi pemasaran. “Ini adalah sinyal bahwa Juventus serius melakukan perubahan fundamental, bukan sekadar tambal sulam,” ujar analis sepak bola Italia, Matteo Bonetti, dalam kolomnya.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Carnevali mengulang resep sukses Sassuolo di panggung yang jauh lebih besar? Atau justru akan tenggelam dalam tekanan publik dan ekspektasi tinggi yang melekat pada klub sebesar Juventus? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti—musim depan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi sang arsitek anyar.



