Pergeseran ke Asia: Pengusaha Malaysia Diingatkan untuk Beradaptasi agar Tak Tertinggal
Baca dalam 60 detik
- Futuris Henrik von Scheel mendesak pengusaha Malaysia menguasai teknologi dan antisipasi perubahan global yang bergeser ke Asia.
- Manusia tetap menjadi pusat Revolusi Industri 4.0, namun keterampilan adaptasi dan jaringan kerja menjadi kunci daya saing.
- Regulasi yang responsif dan upaya mencegah brain drain disebut sebagai faktor penting bagi masa depan ekonomi Malaysia.

Malaysia menghadapi momentum langka di mana arus global mulai berpihak ke Asia, tetapi tanpa kesiapan teknologi dan sumber daya manusia yang mumpuni, posisi itu bisa sia-sia. Demikian pesan yang disampaikan futuris Prof Henrik von Scheel dalam dialog bersama para CEO dan petinggi perusahaan yang digelar oleh Malaysian Employers Federation (MEF) di Petaling Jaya, Selasa (28/7/2026).
Von Scheel, yang dikenal sebagai pencetus istilah "Revolusi Industri Keempat (Industry 4.0)", menekankan bahwa perubahan besar tengah bergerak menuju Asia. Ia menyebut global forces kini bekerja menguntungkan kawasan ini, namun perjalanan tetap penuh tantangan. “Untuk pertama kalinya, kalian punya kursi di meja perundingan. Jangan hanya jadi konsumen informasi, tapi antisipasi perubahan dan pahami dampaknya,” ujarnya.
Meski teknologi berkembang pesat, von Scheel mengingatkan bahwa manusia akan tetap menjadi pusat revolusi ini. “Semakin teknologis kita, semakin manusiawi kita harus bersikap. Bukan lagi soal keterampilan kerja semata, melainkan adaptabilitas, jejaring, dan kemampuan merespons perubahan,” katanya. Ia mengidentifikasi beberapa mega-tren yang saling bertabrakan dan membentuk kembali dunia, yang menuntut tenaga kerja lebih cerdas, lebih kaya, dan lebih sehat bagi semua.
Senada dengan von Scheel, pakar kebijakan industri Dr Abir Haddad menyoroti peran pemerintah dalam menciptakan regulasi yang adil namun lincah. Menurutnya, sistem internal suatu negara—interaksi antara pemerintah, masyarakat, bisnis, dan institusi keuangan—harus dikelola dengan baik, sementara kekuatan eksternal seperti perubahan iklim, teknologi AI, dan pergeseran tenaga kerja juga perlu diantisipasi. “Regulasi adalah implementasi dari strategi nasional. Perannya sangat krusial,” kata Abir.
CEO MEF Datuk Seri Rosman Mohamed tidak menampik bahwa ancaman ketertinggalan sangat nyata. Ia membandingkan posisi Malaysia dengan Thailand dan Singapura yang dinilai sudah melesat. “Jika gagal beradaptasi, kita akan tertinggal. Lihat saja di sekitar kita. Sudah saatnya kita merenungkan apa lagi yang bisa dilakukan untuk membuat perubahan,” tegasnya. Sementara itu, Presiden MEF Datuk Dr Syed Hussain Syed Husman menambahkan bahwa teknologi baru menuntut praktisi untuk cepat meningkatkan keterampilan. “Pengetahuan harus terintegrasi ke dalam organisasi dan menjadi budaya hidup.”
Bagi Indonesia, tantangan serupa juga mengemuka. Pergeseran pusat ekonomi ke Asia membuka peluang sekaligus risiko persaingan tenaga kerja regional. Tanpa reformasi regulasi dan investasi pada keterampilan adaptif, Indonesia bisa mengalami nasib yang sama: kehilangan talenta terbaik ke negara tetangga. Pertanyaan yang kini menggantung adalah: sudah sejauh mana kesiapan institusi dan dunia usaha di Indonesia untuk mengantisipasi perubahan, bukan sekadar bereaksi?



