Banjir Bintang di Real Madrid: Nasib Nico Paz di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Kedatangan Jose Mourinho dan Bernardo Silva ke Real Madrid memicu perombakan skuad, mengancam kepastian pembelian kembali Nico Paz dari Como.
- Como dan Inter Milan bersaing untuk mengamankan jasa gelandang Argentina tersebut, dengan Como mengincar perpanjangan kerja sama demi debut Liga Champions.
- Real Madrid yang kelebihan stok pemain depan harus memilih antara memulangkan Paz atau memanfaatkan klausul jual kembali yang menguntungkan.

Kedatangan Jose Mourinho sebagai pelatih baru dan kepastian transfer gratis Bernardo Silva ke Real Madrid musim panas ini membuat bursa transfer kian panas. Situasi ini langsung berdampak pada masa depan Nico Paz, gelandang muda Argentina yang kini menjadi rebutan antara Como, Inter Milan, dan Los Blancos.
Paz, yang dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Serie A musim 2025/26, menghabiskan dua musim terakhir bersama Como di bawah asuhan Cesc Fabregas. Ia bergabung dengan klub promosi tersebut pada 2024 dengan harga hanya 6 juta euro, namun Real Madrid menyertakan klausul jual kembali 50 persen dan opsi pembelian kembali bertahap: 8 juta euro pada musim panas 2025, 9 juta euro pada 2026, dan 10 juta euro pada 2027.
Sepanjang musim lalu, rumor menyebut Madrid sudah memutuskan untuk mengaktifkan klausul tersebut. Namun, menurut jurnalis transfer Alfredo Pedullà, kedatangan Mourinho dan Silva memaksa klub melakukan evaluasi ulang. Madrid saat ini memiliki lini depan superpadat: Kylian Mbappe, Vinicius Junior, Jude Bellingham, Rodrygo, Arda Guler, Franco Mastantuono, Brahim Diaz, Endrick, plus Silva. Di tengah hiruk-pikuk bintang tersebut, Paz kehilangan jaminan tempat.
Como sendiri mati-matian mempertahankan Paz untuk menyambut debut bersejarah mereka di Liga Champions. Sementara itu, Inter Milan, yang baru saja meraih double winner, juga dikabarkan tertarik. Laporan Corriere dello Sport dan Calciomercato.com menyebut perwakilan kedua klub akan bertemu dalam laga legenda Inter vs Madrid di Bernabeu akhir pekan ini. Hubungan kedua klub memang sedang erat setelah Denzel Dumfries dipastikan pindah ke Madrid dengan klausul rilis.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, saga ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa memanfaatkan klausul kontrak untuk mengelola aset muda. Model bisnis Real Madrid—membeli pemain muda, meminjamkan, lalu membeli kembali atau menjual dengan keuntungan—semakin lazim. Jika Paz akhirnya bertahan di Italia, ia bisa menjadi contoh sukses pemain yang memilih mengembangkan karier di klub yang memberinya menit bermain, alih-alih kembali ke klub besar hanya untuk duduk di bangku cadangan.
Pertanyaan besarnya: akankah Real Madrid rela melepas aset potensial seperti Paz, atau justru memanfaatkannya sebagai alat negosiasi untuk mendatangkan pemain lain? Keputusan dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan arah karier pemain berusia 21 tahun itu.



