Bae Sin-yeong Pamit dari Persita: 196 Laga, Lima Musim, Satu Legenda
Baca dalam 60 detik
- Gelandang asal Korea Selatan, Bae Sin-yeong, resmi meninggalkan Persita Tangerang setelah lima musim membela tim.
- Selama berseragam Persita, ia mencatat 196 penampilan dan menjadi pilar lini tengah yang sulit digantikan.
- Kehilangan figur sentral ini menjadi tantangan besar bagi Persita dalam menyongsong musim depan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4295114/original/060254000_1674043893-Persebaya_Surabaya_Bantai_Persita_Tangerang_5-0_di_Liga_1-Ichsan-7.jpg)
Persita Tangerang secara resmi melepas gelandang bertahan asal Korea Selatan, Bae Sin-yeong, pada Kamis (11/6/2026), mengakhiri pengabdiannya yang berlangsung sejak Juni 2021. Keputusan ini menandai berakhirnya era salah satu pemain asing paling loyal dan konsisten di Liga Indonesia.
Bae Sin-yeong pertama kali bergabung dengan Persita pada 16 Juni 2021, setelah sebelumnya memperkuat Suphanburi di Thailand. Kala itu, tak banyak yang menduga bahwa pemain kelahiran Gimcheon ini akan menjadi figur sentral dalam skuad Pendekar Cisadane. Dalam lima musim, ia mencatatkan total 196 penampilan di semua kompetisi—sebuah angka yang mencerminkan ketahanan fisik dan dedikasi tinggi.
Konsistensinya terlihat dari jumlah laga per musim: 32 pertandingan pada 2022/2023 (3 gol), 26 laga pada 2023/2024, dan 29 penampilan pada 2024/2025. Namun, kontribusinya tidak hanya terukur dari statistik. Bae dikenal sebagai pemain yang mampu menyatu dengan kultur klub dan masyarakat Tangerang. Ia kerap menyebut dukungan Persita Fans sebagai faktor utama performa apiknya, dan bahkan mengaku tidak kesulitan beradaptasi dengan makanan lokal.
Manajemen Persita menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas profesionalisme dan loyalitas Bae. Dalam pernyataan resmi, klub menyebut nomor punggung 33 yang ia kenakan akan selalu dikenang sebagai simbol kerja keras dan ketulusan. “Ia adalah pejuang sejati di lini tengah,” tulis keterangan tim.
Kepergian Bae Sin-yeong meninggalkan celah besar di lini tengah Persita. Dengan pengalaman dan kepemimpinannya, ia menjadi jangkar yang menyatukan lini pertahanan dan serangan. Bagi Persita, mencari pengganti dengan kualitas dan loyalitas serupa bukanlah tugas mudah. Apalagi, kompetisi BRI Super League 2025/2026 semakin ketat dengan kehadiran pemain-pemain asing berkualitas.
Bagi sepak bola Indonesia, kisah Bae Sin-yeong menjadi contoh bagaimana pemain asing bisa benar-benar membangun ikatan emosional dengan klub dan komunitasnya. Ia tidak hanya datang untuk bermain, tetapi juga untuk menjadi bagian dari cerita klub. Pertanyaan besarnya kini: akankah Persita mampu mempertahankan identitas permainan tanpa sosok yang sudah menjadi ikon selama lima tahun? Atau justru ini menjadi momentum bagi pemain lokal untuk naik kelas?



