Roku Buka Opsi Strategis, Termasuk Akuisisi Penuh Perusahaan
Baca dalam 60 detik
- Roku Inc. tengah menjajaki berbagai opsi strategis, termasuk kemungkinan menjual perusahaan secara penuh, menyusul minat dari sejumlah pihak yang ingin mengakses basis pengguna streaming dan platform iklannya.
- Saham Roku melonjak 22% setelah kabar ini beredar, dengan valuasi pasar mencapai sekitar US$19,4 miliar, didorong oleh pertumbuhan pendapatan iklan yang mencapai US$613 juta pada kuartal pertama.
- Potensi akuisisi ini dapat mengubah peta persaingan layanan streaming global, termasuk dampaknya terhadap pasar Indonesia yang mulai ramai pemain lokal dan internasional.
Roku Inc., perusahaan teknologi yang dikenal lewat perangkat streaming dan platform televisi pintar, dikabarkan tengah menjajaki berbagai opsi strategis—termasuk kemungkinan menjual perusahaan secara penuh. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya minat dari perusahaan media dan teknologi yang ingin mengakses basis pengguna streaming yang luas serta platform periklanan digital yang dimiliki Roku.
Menurut enam sumber yang mengetahui langsung masalah ini, Roku telah mengadakan diskusi dengan setidaknya satu perusahaan media AS mengenai potensi penggabungan. Meski demikian, belum ada keputusan final yang diambil. Opsi lain yang dipertimbangkan adalah transaksi private investment in public equity (PIPE), yaitu skema investasi swasta ke dalam saham publik. Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg News.
Saham Roku langsung melonjak 22 persen setelah berita tersebut menyebar. Kapitalisasi pasar perusahaan saat ini mencapai sekitar US$19,4 miliar. Roku tidak hanya memproduksi perangkat streaming dan TV bermerek Roku, tetapi juga mendistribusikan layanan streaming dan mengoperasikan bisnis periklanan digital yang terus tumbuh. Pendapatan iklan menjadi kontributor terbesar, dengan nilai US$613 juta pada kuartal pertama tahun ini—naik 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Model bisnis Roku sebagian besar ditopang oleh pendapatan iklan dan langganan dari aplikasi streaming di platformnya. Perusahaan juga mengambil potongan dari pendaftaran langganan layanan seperti Amazon dan Netflix yang dipromosikan di antarmuka Roku, sambil mendorong konten miliknya sendiri. Hal ini menciptakan ketegangan struktural dalam model bisnisnya.
The Roku Channel, layanan streaming gratis yang didukung iklan, telah menjadi mesin pertumbuhan utama. Namun, persaingan di segmen ini semakin ketat seiring menurunnya televisi tradisional dan semakin banyaknya perusahaan yang meluncurkan layanan serupa. Analis mencatat bahwa Roku Channel bersaing langsung dengan Tubi milik Fox dan Pluto TV milik Paramount. Tahun lalu, Roku bermitra dengan Amazon untuk memungkinkan pengiklan membeli slot iklan di Roku Channel, meskipun Amazon juga mempromosikan layanan streaming gratisnya sendiri di platform Roku.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Meskipun Roku belum secara resmi hadir di Indonesia, basis pengguna streaming di dalam negeri terus bertambah, didorong oleh menjamurnya layanan over-the-top (OTT) lokal seperti Vidio, Mola, dan GoPlay, serta pemain global seperti Netflix, Disney+ Hotstar, dan Amazon Prime Video. Jika Roku diakuisisi oleh perusahaan media atau teknologi besar, hal itu bisa mengubah strategi distribusi konten dan periklanan digital di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Roku mengumpulkan data perilaku menonton dari penggunanya, yang menjadi aset berharga bagi calon pembeli—baik dari sektor media, teknologi, maupun periklanan. Dengan basis lebih dari 100 juta rumah tangga streaming, data tersebut dapat digunakan untuk menargetkan iklan secara lebih presisi. Hal ini menjadi daya tarik utama di tengah persaingan bisnis iklan digital yang semakin sengit.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah: siapa yang akan menjadi pembeli potensial Roku? Apakah raksasa teknologi seperti Amazon, Google, atau Apple? Atau justru perusahaan media tradisional yang ingin memperkuat posisi di era streaming? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan nasib Roku, tetapi juga membentuk kembali lanskap industri hiburan global—dan pada akhirnya, bagaimana konten dikonsumsi di Indonesia.



