Ambisi Pesawat Jepang: Boeing Jadi Kunci, China Jadi Ancaman
Baca dalam 60 detik
- Jepang mengincar kerja sama dengan Boeing untuk mengembangkan pesawat buatan dalam negeri, merespons kemajuan China yang telah melokalisasi industri dirgantara.
- Pembelian 100 pesawat Boeing oleh Jepang menjadi bagian dari negosiasi tarif dengan AS, sekaligus membuka peluang alih teknologi.
- Kegagalan proyek SpaceJet dan ketidakjelasan pemimpin pengembangan menjadi tantangan besar bagi ambisi Jepang mengejar China.

Persaingan industri dirgantara global kian memanas setelah China sepakat membeli 200 pesawat Boeing dalam pertemuan puncak AS-China pertengahan Mei lalu. Bagi Jepang, langkah Beijing itu bukan sekadar berita diplomatik, melainkan alarm bahwa mereka tertinggal dalam perlombaan menguasai langit.
Pemerintah Jepang kembali menggeliatkan ambisi mengembangkan pesawat komersial dalam negeri, kali ini dengan menggandeng Boeing sebagai mitra strategis. Langkah ini ditempuh untuk menyaingi China yang dinilai sudah beberapa level di atas Jepang dalam hal industrialisasi dirgantara. Seorang pejabat senior Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang tak menyembunyikan kekhawatirannya, menyebut Jepang saat ini hanya menjadi subkontraktor bagi Boeing dan Airbus.
Pintu kerja sama dengan Boeing terbuka lebar setelah negosiasi tarif antara Tokyo dan Washington. Pada Juni tahun lalu, CEO Boeing Kelly Ortberg mengunjungi Perdana Menteri Shigeru Ishiba di kantornya. Keduanya sepakat memperkuat produksi komponen Boeing di Jepang. Menariknya, Ortberg yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Donald Trump menyarankan agar Jepang tidak mengungkapkan rencana pengembangan bersama secara gamblang, mengingat Trump gencar mendorong manufaktur dalam negeri AS.
Hasilnya, Jepang berhasil memperoleh pemotongan tarif mobil dan tarif timbal balik menjadi 15 persen, dengan imbalan pembelian 100 pesawat Boeing jadi. Trump memang dikenal agresif menjual Boeing sebagai alat tawar dalam kesepakatan bilateral.
Kemitraan dengan Boeing sebenarnya bukan hal baru. Boeing 787 yang mulai dioperasikan All Nippon Airways pada 2011 memiliki 35 persen komponen buatan Jepang, sehingga sempat dijuluki "pesawat buatan Jepang virtual". Pada 2024, Boeing bahkan membuka pusat pengembangan di Nagoya. Namun, Jepang menginginkan lebih dari sekadar pemasok suku cadang. Mereka ingin memiliki "Hinomaru jet"โpesawat dengan bendera Jepang sebagai simbol kemandirian industri.
Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang pada 2024 merilis strategi ambisius: investasi 5 triliun yen selama sepuluh tahun dengan target pesawat mengudara pada 2035. Namun, skeptisisme masih membayangi. Kegagalan proyek SpaceJet (dulu MRJ) yang digagas Mitsubishi Heavy pada 2008 menjadi pelajaran pahit. Meski mendapat suntikan dana negara 50 miliar yen, proyek itu kandas pada 2023 karena masalah teknis dan biaya membengkak.
Pertanyaan besar kini: siapa yang akan memimpin pengembangan? Belum ada perusahaan Jepang yang secara tegas menyatakan diri sebagai pemimpin proyek. Politisi Partai Demokrat Liberal pun ragu. "Ini butuh waktu lama, dan kami tidak tahu apakah akan berhasil," ujar seorang anggota parlemen bidang perdagangan.
Bagi Indonesia, persaingan Jepang-China di industri dirgantara membuka peluang sekaligus risiko. Di satu sisi, kerja sama dengan Boeing bisa memperkuat rantai pasok regional, termasuk potensi keterlibatan industri komponen Indonesia. Di sisi lain, dominasi China yang kian agresif bisa menekan posisi Indonesia sebagai pasar penerbangan yang terus tumbuh. Pertanyaannya, akankah Jepang mampu bangkit dari kegagalan SpaceJet, atau justru China yang akan semakin kokoh sebagai kekuatan baru di langit dunia?


