Pabrik Komponen iPhone Tata Diduga Cemari Air Tanah, Regulator India Ancam Tutup Paksa
Baca dalam 60 detik
- Badan pengendali pencemaran India menemukan limbah cair dari pabrik Tata Electronics di Hosur mencemari sumur dan lahan pertanian di sekitarnya.
- Pabrik yang memasok komponen untuk Apple itu telah diperiksa lima kali sejak Desember 2025, namun Tata dinilai belum melakukan perbaikan yang diminta.
- Kasus ini menambah daftar panjang masalah rantai pasok Apple di India, termasuk kebakaran dan diskriminasi tenaga kerja, di tengah target produksi iPhone global yang meningkat.

Badan pengendali pencemaran India mengeluarkan peringatan keras kepada Tata Electronics, pemasok utama komponen iPhone milik Apple, setelah air limbah pabriknya di Hosur, Tamil Nadu, diduga mencemari air tanah dan lahan pertanian di sekitarnya. Regulator bahkan mengancam akan memutus aliran listrik dan menutup pabrik jika Tata tidak memberikan penjelasan yang memuaskan.
Pabrik yang memproduksi panel belakang dan komponen lain untuk iPhone itu menjadi sorotan setelah petani setempat selama berbulan-bulan mengeluhkan air limbah yang mencemari sumur dan lahan mereka. Keluhan tersebut mendorong otoritas setempat melakukan lima kali inspeksi antara Desember 2025 dan Mei 2026. Hasilnya, ditemukan bahwa air limbah dari pabrik dialirkan ke kolam penampungan air hujan di dalam fasilitas, lalu meluap dan mencemari air tanah di lahan pertanian di sekitarnya.
Dalam surat peringatan tiga halaman yang dikutip Reuters, badan pengendali pencemaran menyatakan bahwa Tata tidak mengambil tindakan perbaikan atas instruksi yang telah diberikan sebelumnya pada Desember 2025. Pabrik tersebut kini diminta menjelaskan mengapa sambungan listriknya tidak boleh diputus dan operasinya tidak dihentikan.
Tata Electronics membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataannya, perusahaan mengklaim telah melakukan analisis independen melalui laboratorium terakreditasi yang menyimpulkan bahwa pabrik sepenuhnya mematuhi semua norma regulasi. Tata juga menegaskan komitmennya terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab dan perlindungan lingkungan serta masyarakat setempat. Namun, perusahaan tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai respons yang telah disampaikan kepada otoritas.
Apple, yang memiliki aturan ketat tentang bagaimana pemasok menangani air limbah, hingga kini belum memberikan komentar. Pemerintah Tamil Nadu juga bungkam. Kasus ini menambah rentetan masalah yang membayangi rantai pasok Apple di India. Sebelumnya, kebakaran di pabrik Tata Hosur pada September 2024 sempat menghentikan produksi komponen iPhone, sementara kebakaran di pabrik pemasok lama Pegatron pada 2023 juga menghentikan produksi selama berhari-hari. Pada 2024, investigasi Reuters mengungkap bahwa pemasok utama Apple, Foxconn, secara sistematis mengecualikan perempuan menikah dari pekerjaan perakitan iPhone di salah satu pabriknya di India.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap kepatuhan lingkungan di kawasan industri, terutama yang melibatkan perusahaan multinasional. Dengan meningkatnya investasi di sektor manufaktur elektronik, risiko pencemaran serupa juga perlu diantisipasi. Regulator di Indonesia dapat belajar dari langkah tegas badan pengendali pencemaran India yang melakukan inspeksi berulang dan ancaman penutupan. Namun, efektivitas penegakan hukum masih menjadi tantangan, mengingat banyaknya industri yang lolos dari sanksi.
Ke depan, tekanan terhadap Tata Electronics diperkirakan akan meningkat. Jika terbukti bersalah, pabrik tersebut tidak hanya menghadapi penutupan, tetapi juga risiko reputasi yang dapat mempengaruhi hubungan dengan Apple. Pertanyaannya, apakah langkah tegas regulator India ini akan menjadi preseden bagi penegakan lingkungan di sektor manufaktur global, atau justru akan berakhir dengan kompromi seperti yang sering terjadi di negara berkembang?

