Bank Mandiri, BRI, BNI: Simak Syarat Saldo Minimum Terbaru Juni 2026
Baca dalam 60 detik
- Tiga bank pelat merah menetapkan batas saldo minimum rekening tabungan yang bervariasi, mulai dari Rp5.000 untuk pelajar hingga Rp1 juta untuk segmen bisnis.
- Kebijakan ini memengaruhi nasabah ritel dan korporasi, dengan produk inklusi keuangan seperti TabunganKu dan SimPel menawarkan ambang rendah demi mendorong literasi finansial.
- Perbedaan saldo minimum mencerminkan strategi segmentasi bank dalam mengelola biaya administrasi dan layanan, sekaligus menjaga kepatuhan regulasi OJK.

Nasabah Bank Mandiri, BRI, dan BNI wajib mencermati besaran saldo minimum rekening tabungan yang berlaku per Juni 2026, karena dana yang tidak dapat ditarik ini menjadi syarat utama agar rekening tetap aktif dan terhindar dari penalti administrasi. Setiap bank menerapkan ambang batas berbeda berdasarkan jenis produk dan segmen nasabah, mulai dari pelajar hingga pengusaha.
Di Bank Mandiri, produk Tabungan Rupiah mematok saldo minimum Rp100.000, sementara Tabungan NOW hanya Rp25.000. Tabungan Payroll lebih ringan dengan Rp10.000, dan TabunganKu Rp20.000. Khusus Tabungan SiMakmur, bank membebaskan biaya administrasi tanpa syarat saldo minimum. Produk simpanan pelajar (SimPel) bahkan hanya Rp5.000. Kebijakan ini menunjukkan upaya Mandiri mengakomodasi nasabah muda dan pekerja formal dengan kebutuhan transaksi sederhana.
Bank BRI menetapkan Simpedes dan BritAma (termasuk varian Bisnis/Pro/X) sama-sama Rp50.000. TabunganKu dan Junio masing-masing Rp20.000 dan Rp50.000, sementara SimPel kembali di angka Rp5.000. Angka ini relatif stabil dibanding tahun sebelumnya, menandakan BRI fokus pada stabilitas biaya bagi nasabah ritel massal. Sementara itu, BNI memberlakukan saldo minimum lebih tinggi untuk produk premium: Taplus Rp150.000 dan Taplus Bisnis Rp1.000.000. Taplus Pegawai mengikuti perjanjian kerja sama, sedangkan Taplus Muda justru Rp0 alias tanpa saldo minimum. BNI Pandai juga tanpa batasan saldo, memperkuat misi inklusi keuangan.
Perbedaan signifikan antara produk pelajar dan bisnis mencerminkan strategi segmentasi perbankan. Produk inklusi keuangan seperti TabunganKu dan SimPel—yang digagas OJK untuk memperluas akses perbankan—konsisten memiliki saldo minimum rendah, yaitu Rp20.000 dan Rp5.000 di ketiga bank. Sebaliknya, produk untuk korporasi atau usaha menengah ke atas, seperti Taplus Bisnis BNI, mematok Rp1 juta karena layanan transaksi yang lebih kompleks dan limit harian yang besar.
Bagi nasabah ritel, memilih produk tabungan dengan saldo minimum sesuai profil keuangan menjadi krusial. Jika saldo turun di bawah ambang batas, bank berhak membebankan biaya administrasi atau bahkan menutup rekening. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri mewajibkan bank untuk transparan dalam menginformasikan ketentuan ini melalui brosur dan aplikasi mobile. Ke depan, tren digitalisasi perbankan diprediksi mendorong lebih banyak produk tanpa saldo minimum, seperti Taplus Muda BNI, seiring meningkatnya preferensi transaksi nontunai. Pertanyaannya, apakah bank lain akan mengikuti jejak BNI dengan menghapus saldo minimum untuk segmen tertentu, atau justru menaikkan batas untuk menutup biaya operasional? Jawabannya akan menentukan pilihan nasabah di tengah persaingan layanan perbankan yang kian ketat.



