Krisis Listrik dan Air Melanda Medan: Pasutri Tewas di Mobil, Gubernur Desak Kompensasi
Baca dalam 60 detik
- Pemadaman listrik bergilir di Sumatera Utara akibat kerusakan 12 tower transmisi memicu krisis air bersih di tujuh kecamatan dan menewaskan sepasang suami istri di dalam mobil.
- Gubernur Bobby Nasution menuntut PLN memberikan kompensasi nyata kepada warga, sembari PDAM Tirtanadi menargetkan perbaikan pipa raksasa selesai dalam waktu dekat.
- Insiden mobil Damkar yang memasok air ke rumah pejabat memicu protes warga, memperkuat tuntutan transparansi dan keadilan distribusi bantuan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6623639/original/051921100_1779454445-IMG_6939.jpg)
Pemadaman listrik bergilir yang melanda Sumatera Utara sejak akhir Mei 2026 tak hanya membuat warga Medan gelisah, tetapi juga memicu tragedi kemanusiaan dan krisis air bersih yang melumpuhkan aktivitas di tujuh kecamatan. Sepekan terakhir, gangguan kelistrikan yang dipicu kerusakan 12 tower transmisi di jalur Galang–Sei Mangkei akibat cuaca ekstrem telah merembet ke sektor air minum dan memicu kemarahan publik.
Peristiwa paling memilukan terjadi pada Jumat (5/6/2026) ketika sepasang suami istri, Suharlin dan Dame Lamria Pakpahan (47), ditemukan tewas di dalam mobil Chevrolet hitam di depan rumah orang tua mereka di Kecamatan Medan Denai. Kapolsek Medan Area AKP M. Ainul Yaqin mengonfirmasi bahwa pasutri tersebut memilih tidur di mobil karena listrik di rumah mereka padam. Keesokan harinya, saksi menemukan wiper mobil masih menyala dan kedua korban sudah tak bernyawa akibat suhu kabin yang ekstrem tanpa sirkulasi udara. Polisi memastikan tidak ada unsur pidana; kematian murni akibat kondisi lingkungan yang berbahaya.
Di sisi lain, pemadaman listrik yang kerap terjadi tanpa jadwal jelas juga memicu krisis air bersih. Direktur Utama PDAM Tirtanadi, Ardian Surbakti, menjelaskan bahwa ketidakstabilan arus listrik menyebabkan tekanan kejut (shock pressure) yang merusak mesin di Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Deli Tua dan memecahkan pipa distribusi utama berdiameter 1.000 milimeter. Akibatnya, pasokan air ke lima kecamatan di Medan dan dua kecamatan di Deli Serdang terhenti total sejak Selasa (8/6/2026). Manajemen PDAM menghentikan produksi pada Rabu (10/6/2026) untuk fokus perbaikan dan menargetkan air kembali mengalir pada Kamis (11/6/2026) siang atau sore.
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution langsung bereaksi keras. Pada Senin (7/6/2026), ia mendatangi kantor PLN UP2B Sumbagut di Medan dan mendesak direksi PLN memberikan kompensasi kepada masyarakat, terutama pengusaha kecil yang merugi. "Masyarakat tidak tahu jadwal pemadaman, tidak ada persiapan, dan itu berulang setiap hari. Harus ada keringanan tagihan atau diskon token," tegas Bobby. Ia juga menyoroti lemahnya sosialisasi jadwal pemadaman oleh PLN dan meminta koordinasi dengan pemerintah daerah.
Krisis air bersih semakin memanas setelah beredar video viral yang memperlihatkan mobil Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Medan mengisi air ke rumah Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan, Benny Sinomba Siregar. Dalam rekaman, warga berteriak protes karena merasa diabaikan sementara pejabat mendapat prioritas. Kepala Dinas Damkarmat Kota Medan, Wandro Abadi Agnellus Malau, membantah bahwa armada dikerahkan atas permintaan Benny. Ia menyatakan mobil tersebut bergerak berdasarkan koordinasi dengan PDAM untuk distribusi air ke seluruh kecamatan terdampak. Meski klarifikasi telah diberikan, insiden ini memicu perdebatan tentang keadilan sosial di tengah krisis.
PLN sendiri terus berupaya memulihkan sistem kelistrikan. General Manager PLN UID Sumatera Utara Mundhakir menyatakan bahwa 154 personel gabungan telah menyelesaikan pembangunan 3 tower ERS dan tengah mengebut pemasangan konduktor. Namun, skenario terburuk manajemen beban masih diperkirakan berlangsung hingga 14 Juni 2026. Pertanyaannya, akankah perbaikan infrastruktur rampung tepat waktu sebelum musim kemarau puncak tiba, atau justru krisis ini akan menjadi preseden buruk bagi kesiapan jaringan listrik Sumatera ke depan?



