Bangladesh Ukir Sejarah: Gilas Australia di Seri ODI Perdana
Baca dalam 60 detik
- Bangladesh mencatat kemenangan seri ODI pertama atas Australia setelah menang lima wicket di Mirpur, unggul 2-0.
- Kemenangan ini memperkuat posisi Bangladesh di peringkat ICC, sekaligus mengancam peluang Inggris lolos langsung ke Piala Dunia 2027.
- Australia yang tampil tanpa sejumlah pemain kunci harus mengakui keunggulan tuan rumah yang bermain agresif.

Bangladesh akhirnya memecahkan rekor buruk dengan meraih kemenangan seri One Day International (ODI) perdana atas Australia setelah menundukkan tim tamu lima wicket pada pertandingan kedua di Stadion Sher-e-Bangla, Mirpur, Kamis (6/3). Kemenangan ini sekaligus memastikan tuan rumah unggul 2-0 dalam seri tiga pertandingan yang masih menyisakan satu laga.
Sebelumnya, Bangladesh belum pernah sekalipun memenangi seri ODI melawan Australia. Dalam empat seri sebelumnya, mereka selalu kalah telak 3-0. Kemenangan pertama dalam format 50-over atas Australia baru diraih pada laga pembuka seri ini, setelah 21 tahun penantian sejak kemenangan tunggal di turnamen segitiga bersama Inggris pada 2005. Kini, dengan dua kemenangan beruntun, Bangladesh menambah koleksi prestasi setelah sukses di seri T20 pada 2021.
Pertandingan kedua berlangsung dramatis. Australia yang memenangi undian memilih batting lebih dulu, namun langsung terpuruk. Dalam dua over pertama, mereka kehilangan tiga wicket tanpa satu run pun—sebuah kejadian langka yang hanya terjadi empat kali dalam 4.975 pertandingan ODI pria. Stand-in kapten Josh Inglis mencoba bangkit dengan 34 run, sebelum Marnus Labuschagne (55* tidak keluar) dan Xavier Bartlett (52) membangun kemitraan 103 run untuk wicket ketujuh. Namun, hujan menghentikan permainan saat Australia 187-8 dalam 42 over.
Setelah hujan reda, target Bangladesh direvisi menjadi 192 run dalam 41 over berdasarkan metode Duckworth-Lewis-Stern (DLS). Kehilangan Tanzid Hasan Tamim tanpa run di over pertama, Bangladesh bangkit melalui kemitraan 86 run antara Soumya Sarkar (42) dan Najmul Hossain Shanto (41). Meski keduanya gugur beruntun, Tawhid Hridoy (40* tidak keluar) dan kapten Mehidy Hasan Miraz (22* tidak keluar) membawa tim pulang dengan enam over tersisa. Mehidy sempat terpukul bouncer Nathan Ellis dan membutuhkan perawatan, namun tetap bertahan meski tandu sudah disiapkan.
Bagi Australia, kekalahan ini menjadi pukulan telak meski mereka tampil tanpa pemain bintang seperti Mitch Marsh, Travis Head, Pat Cummins, dan Josh Hazlewood. Kegagalan batting di awal menjadi sorotan, meski Labuschagne dan Bartlett sempat menyelamatkan muka. Pelatih dan manajemen Australia dipastikan akan mengevaluasi strategi menjelang laga pamungkas Minggu (9/3).
Dari perspektif Indonesia, meski kriket belum sepopuler sepak bola, prestasi Bangladesh menunjukkan bagaimana negara dengan infrastruktur terbatas bisa bersaing di level tertinggi. Hal ini bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan kriket di Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang tengah giat membina atlet muda. Selain itu, persaingan peringkat ICC yang ketat antara Inggris, Bangladesh, dan Hindia Barat membuka peluang bagi tim-tim non-unggulan untuk tampil di Piala Dunia 2027.
Pertandingan ketiga di Mirpur akan menjadi ujian terakhir bagi Australia untuk menghindari sapu bersih. Namun, dengan momentum positif dan dukungan publik sendiri, Bangladesh berpeluang mencatat sejarah lebih besar. Akankah Australia bangkit atau Bangladesh kembali menorehkan tinta emas?



