Prabowo Setujui Pengunduran Diri Perry Warjiyo, Keppres Segera Terbit
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah segera menerbitkan Keputusan Presiden untuk memberhentikan secara hormat Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia setelah Presiden Prabowo menerima surat pengunduran dirinya.
- Pengunduran diri yang diajukan dengan alasan pribadi ini memicu transisi kepemimpinan di bank sentral, dengan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas sementara.
- Langkah ini menjadi ujian koordinasi fiskal-moneter di tengah tekanan stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi, dengan pasar menanti nama gubernur definitif.

Presiden Prabowo Subianto secara resmi menerima pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia, membuka babak baru kepemimpinan bank sentral yang segera diikuti penerbitan Keputusan Presiden (Keppres) pemberhentian secara hormat. Langkah administratif itu dikonfirmasi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, sebagai tindak lanjut surat pengunduran diri yang disampaikan Perry sehari sebelumnya.
Prasetyo menjelaskan bahwa Presiden telah memberikan apresiasi atas pengabdian Perry selama memimpin bank sentral. "Untuk selanjutnya secara administratif hari ini akan kami tindaklanjuti. Sesuai mekanisme, akan diterbitkan Keputusan Presiden berkaitan dengan pemberhentian beliau secara hormat," ujarnya. Perry disebut mengajukan pengunduran diri karena alasan pribadi, tanpa merinci lebih lanjut.
Pengunduran diri yang mendadak ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai kelangsungan kebijakan moneter, terutama di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan upaya menjaga inflasi. Namun, Prasetyo meminta masyarakat tetap tenang. Ia meyakinkan bahwa koordinasi antara pemerintah dan BI akan terus berjalan. "BI memiliki peranan menjaga moneter, sementara pemerintah melalui Kementerian Keuangan menjalankan fungsi fiskal dengan tetap berkoordinasi secara erat," katanya.
Destry Damayanti, yang kini memimpin sementara, menegaskan bahwa BI akan memastikan seluruh tugas dan kewenangannya tetap berjalan. "Kami akan menjaga stabilitas nilai rupiah, sistem pembayaran, dan sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya dalam pernyataan terpisah.
Transisi kepemimpinan ini terjadi di saat Bank Indonesia tengah bersiap menghadapi dinamika global, termasuk kebijakan suku bunga The Fed dan ketidakpastian pasar keuangan. Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, stabilitas kelembagaan BI menjadi krusial. Pengganti definitif Perry nantinya harus mampu mempertahankan kredibilitas bank sentral sekaligus menjembatani koordinasi dengan pemerintah.
"Mari kita terus menjalankan tugas sesuai kewenangan yang diberikan undang-undang," โ Mensesneg Prasetyo Hadi.
Langkah selanjutnya, pemerintah akan mengusulkan nama calon gubernur definitif ke Dewan Perwakilan Rakyat. Proses fit and proper test diperkirakan berlangsung beberapa pekan ke depan. Pasar akan mencermati apakah figur yang dipilih memiliki latar belakang yang kuat di bidang moneter dan makroekonomi, serta rekam jejak yang bebas dari kontroversi.
Keppres pemberhentian Perry dijadwalkan terbit dalam waktu dekat, menandai berakhirnya era kepemimpinan Perry yang telah membawa BI melalui berbagai tantangan, termasuk pandemi Covid-19 dan gejolak global. Pertanyaan besarnya: akankah suksesi ini berjalan mulus dan menjaga kepercayaan pasar, atau justru membuka ketidakpastian baru di tengah pemulihan ekonomi?



