Shein Terguncang: Rugi Rp1,5 Triliun Usai Tarif Trump Hapus Bebas Bea
Baca dalam 60 detik
- Shein mencatat rugi bersih 99 juta dolar AS pada kuartal I-2025, berbalik tajam dari laba 395 juta dolar setahun lalu, dipicu pencabutan pengecualian bea masuk barang murah oleh AS.
- Penghapusan de minimis exemption oleh Presiden Trump memangkas penjualan Shein di AS, mendorong perusahaan menaikkan harga untuk menekan biaya tambahan.
- IPO Shein di Hong Kong mengantongi izin regulator China, namun ketidakpastian perang tarif dan tekanan global membayangi valuasi perusahaan.

Shein, raksasa fast-fashion yang bermarkas di Singapura namun berakar dari China, membukukan kerugian bersih 99 juta dolar AS pada tiga bulan pertama tahun ini—berbalik arah dari laba 395 juta dolar pada periode yang sama tahun lalu. Langkah Presiden AS Donald Trump yang mencabut pengecualian bea masuk untuk paket kecil menjadi pukulan telak bagi model bisnis perusahaan yang mengandalkan pengiriman langsung ke konsumen.
Kebijakan yang dikenal dengan de minimis exemption itu memungkinkan barang senilai 800 dolar atau kurang masuk ke AS tanpa dikenai bea. Pencabutan yang berlaku efektif 29 Agustus 2025 itu diperluas dari sebelumnya hanya menyasar produk China dan Hong Kong ke seluruh dunia. Menurut Shein dalam dokumen IPO yang diajukan ke bursa Hong Kong, langkah tersebut langsung menggerus penjualan dan pertumbuhan pendapatan bersih perusahaan.
Shein mengaku akan menaikkan harga di pasar AS untuk mengompensasi kenaikan biaya. “Kami sedang menjajaki berbagai opsi, termasuk menaikkan harga di pasar AS untuk menutupi sebagian kenaikan biaya,” demikian pernyataan resmi dalam prospektus. Selain itu, perang di Iran turut menekan permintaan, memperpanjang waktu pengiriman, dan memicu lonjakan biaya operasional di sejumlah pasar.
Kerugian kuartal pertama juga tercatat membengkak akibat perubahan akuntansi atas saham investor khusus—senilai 328 juta dolar sebagai kerugian kertas—yang nilainya bisa berubah sebelum pencatatan saham. Meski merugi, Shein mencatat 281 juta pelanggan aktif pada tahun yang berakhir Maret 2026, naik 16,3 persen secara tahunan, dengan total pesanan lebih dari satu miliar unit.
IPO Shein di Hong Kong akhirnya mendapat restu dari China Securities Regulatory Commission (CSRC) pada 10 Juli, setelah gagal melantai di New York dan London. Rencananya, penawaran saham perdana akan berlangsung dalam beberapa bulan mendatang. Namun, dokumen IPO belum mengungkapkan detail ukuran, jadwal, atau harga saham.
Kebijakan tarif AS tidak hanya memukul Shein, tetapi juga mengubah peta persaingan e-commerce global. Di Indonesia, Shein sempat diblokir pada 2021 karena aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), namun kemudian diizinkan lagi dengan sejumlah persyaratan. Kini, jika Shein menaikkan harga di AS, konsumen di Asia Tenggara berpotensi terkena imbas—baik dari kenaikan harga global atau pengalihan pasokan. Pemerintah Indonesia perlu mewaspadai masuknya barang murah dari China melalui kanal alternatif pasca-pencabutan de minimis, yang bisa mengancam produk UMKM lokal.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah: dapatkah Shein membalikkan kerugian dengan strategi diversifikasi pasar dan kenaikan harga sementara IPO sudah di depan mata? Jika investor mulai meragukan prospek pertumbuhan di bawah tekanan tarif, valuasi perusahaan bisa tergerus lebih dalam. Satu hal pasti: perang dagang AS-China dan perubahan regulasi global akan terus membayangi langkah Shein di bursa Hong Kong.



