Tradisi Makan Belut di Jepang: 1.500 Porsi Ludes di Hari Sapi Musim Panas
Baca dalam 60 detik
- Restoran belut legendaris Kawatoyo Honten di Narita menyajikan 1.500 porsi pada Hari Sapi Musim Panas, dua kali lipat dari hari biasa.
- Tradisi makan belut dipercaya memberi ketahanan tubuh saat cuaca ekstrem, suatu praktik yang telah mengakar sejak era Meiji.
- Fenomena ini menjadi cermin kuatnya budaya kuliner musiman Jepang yang dapat menginspirasi pelestarian tradisi serupa di Indonesia.

Ribuan pengunjung memadati kawasan Omotesando menuju Kuil Naritasan Shinshoji di Chiba, Jepang, pada 26 Juli lalu. Hari itu bertepatan dengan Doyo no Ushi no Hi, atau Hari Sapi di pertengahan musim panas, ketika masyarakat Jepang secara turun-temurun menyantap belut panggang untuk menjaga stamina.
Restoran tertua di kawasan itu, Kawatoyo Honten, yang berdiri sejak 1910 sebagai pedagang ikan air tawar, menjadi tujuan utama. Sejak pukul 8 pagi, antrean pelanggan sudah mengular untuk mendapatkan tiket nomor. Manajemen memutuskan membuka pintu 30 menit lebih awal, yakni pukul 9.30, untuk mengakomodasi lonjakan pengunjung.
Di dapur, para karyawan bekerja maksimal membagi tugas: memotong belut gemuk, memanggang hingga empuk, lalu mengolesinya dengan saus manis-gurih khas. Menurut pihak restoran, jumlah pelanggan terus meningkat seiring naiknya suhu udara setelah musim hujan berakhir. Untuk hari spesial itu, mereka menyiapkan 1.500 porsi โ lebih dari dua kali lipat jumlah harian biasa.
Seorang pria berusia 50-an asal Tsuchiura, Prefektur Ibaraki, yang datang bersama istrinya mengaku ini kali pertama mereka sengaja berkunjung pada hari keramat tersebut. “Belut di sini tetap enak seperti biasa, dan saya merasa lebih bertenaga setelah memakannya,” ujarnya. Pernyataan itu mencerminkan keyakinan luas bahwa belut panggang mampu melawan kelelahan akibat panas ekstrem โ kepercayaan yang sudah mengakar sejak zaman Edo.
Fenomena ini tidak sekadar soal kuliner, melainkan juga cerminan bagaimana budaya musiman Jepang tetap lestari di tengah modernitas. Di Indonesia, tradisi serupa juga ada, seperti kebiasaan makan ketupat saat Lebaran atau bubur suro pada bulan Muharram. Namun, skala antusiasme seperti di Jepang jarang terjadi. Jika dikelola sebagai atraksi wisata kuliner, tradisi semacam itu bisa mendatangkan manfaat ekonomi dan budaya bagi daerah-daerah di Tanah Air.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah generasi muda Jepang akan terus memegang tradisi ini di tengah perubahan gaya hidup. Di Jepang sendiri, konsumsi belut menurun dalam beberapa dekade terakhir akibat mahalnya harga dan menipisnya stok. Namun, momen seperti Doyo no Ushi no Hi membuktikan bahwa ritual kuliner masih punya tempat istimewa di hati masyarakat. Indonesia dapat belajar dari konsistensi Jepang dalam merawat warisan kulinernya.



