Badai Mengancam Pertarungan UFC di Halaman Gedung Putih
Baca dalam 60 detik
- Pertarungan UFC pertama di Gedung Putih dijadwalkan Minggu malam, namun ancaman badai petir dan hujan deras membayangi acara eksklusif tersebut.
- Acara yang menelan biaya $60 juta ini menjadi ajang unjuk kekuatan olahraga tarung yang dulunya dicap biadab, sekaligus bagian dari perayaan 250 tahun AS.
- Jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga AS menilai acara ini tidak pantas, sementara gugatan hukum untuk menghentikannya gagal.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Gedung Putih akan menjadi gelanggang pertarungan profesional—namun bukan politik, melainkan olahraga tarung Ultimate Fighting Championship (UFC). Sekitar 4.300 undangan akan memadati South Lawn pada Minggu malam waktu setempat, sementara 85.000 penggemar lainnya berkumpul di zona penggemar terdekat. Namun, cuaca buruk yang diperkirakan melanda Washington DC justru menjadi lawan paling tangguh malam itu.
Badan Cuaca Nasional AS telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi badai petir yang merusak, dengan kelembapan di atas 70% dan suhu mencapai 27 derajat Celsius saat pertarungan dimulai pukul 20.00 EDT. Peluang hujan mencapai 70%, dengan curah hujan diperkirakan mencapai setengah inci. Jika sambaran petir terdeteksi dalam radius delapan mil dari lokasi, pertarungan otomatis dihentikan selama 30 menit—sebuah skenario yang bisa mengacaukan jadwal tujuh pertarungan yang telah disusun rapi.
Acara ini merupakan bagian dari perayaan ulang tahun ke-80 Presiden Donald Trump yang jatuh pada Hari Bendera, sekaligus rangkaian peringatan 250 tahun kemerdekaan AS. Trump, yang memiliki hubungan erat dengan presiden UFC Dana White, menyebut pertarungan ini sebagai “pertunjukan terbesar di Bumi” dan membandingkan struktur baja raksasa “Claw” setinggi 28 meter dengan Menara Eiffel. Biaya penyelenggaraan mencapai $60 juta, termasuk $700.000 untuk perbaikan rumput setelah acara.
Namun, di balik kemeriahan, kontroversi mengiringi langkah ini. Sebuah gugatan diajukan oleh dua warga Virginia—seorang veteran Perang Vietnam dan aktivis masyarakat—melalui firma hukum Public Integrity Project yang menuding acara tersebut “sarat korupsi”. Mereka menyoroti kurangnya izin untuk acara penimbangan di Lincoln Memorial serta hubungan personal dan finansial Trump dengan Dana White. Hakim menolak permohonan darurat untuk menghentikan acara pada Jumat lalu, dan Gedung Putih menyebut gugatan itu “tidak berdasar”.
Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis Jumat menunjukkan skeptisisme publik yang tinggi: hanya 16% warga AS menganggap pantas UFC digelar di Gedung Putih, sementara 46% menilai tidak pantas. Bahkan di kalangan Republik, hanya sepertiga yang menyetujui rencana ini. Angka ini mencerminkan perpecahan opini di tengah upaya pemerintahan Trump menjadikan UFC sebagai simbol kekuatan nasional.
Bagi Indonesia, fenomena ini menarik dicermati. UFC telah memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air, dengan siaran langsung di platform OTT dan antusiasme tinggi terhadap petarung seperti Jeka Saragih. Langkah UFC masuk ke lingkaran kekuasaan politik AS bisa menjadi preseden bagi olahraga tarung di negara lain, termasuk Indonesia, dalam membangun citra dan legitimasi. Namun, kontroversi etika dan politik yang menyertainya juga menjadi pelajaran tentang batas antara olahraga, bisnis, dan kekuasaan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah langkah ini akan menjadi titik balik bagi UFC sebagai olahraga arus utama, atau justru memicu reaksi balik dari publik yang menilai pencampuran politik dan olahraga tarung terlalu berlebihan? Dengan badai yang mengancam secara harfiah dan metaforis, Minggu malam di Washington akan menjadi ujian bagi daya tarik dan daya tahan UFC di panggung paling prestisius Amerika.



