Bekantan, Arsitek Mangrove yang Terlupakan, Kunci Kelestarian Pesisir Kalimantan
Baca dalam 60 detik
- Primata endemik Kalimantan, bekantan, berperan sebagai penyebar biji dan pengatur struktur hutan mangrove sehingga kelangsungan ekosistem pesisir bergantung padanya.
- Penemuan spesies mangrove langka Camptostemon philippinensis di Teluk Balikpapan menegaskan hubungan timbal balik antara bekantan dan vegetasi pesisir yang terancam.
- Ancaman alih fungsi lahan dan perburuan liar mendorong kebutuhan mendesak akan strategi konservasi berbasis riset genetik dan pemodelan habitat.

Di balik hidung besar dan perut buncit yang kerap mengundang senyum, bekantan menyimpan peran ekologis yang jauh lebih serius. Primata endemik Pulau Kalimantan ini tak sekadar penghuni hutan mangrove, melainkan arsitek utama yang menentukan rimbunnya vegetasi pesisir. Tanpa kehadirannya, keseimbangan ekosistem lahan basah yang melindungi garis pantai dari abrasi dan menyimpan karbon biru dalam jumlah besar akan terancam runtuh.
Bekantan (Nasalis larvatus) memiliki ketergantungan mutlak pada ekosistem mangrove, rawa gambut, dan hutan riparian di sepanjang sungai. Sebagai pemakan daun dan buah, satwa ini setiap hari menggigit, memangkas, dan mengunyah dedaunan dari puluhan jenis pohon bakau seperti Rhizophora, Bruguiera, hingga Sonneratia. Aktivitas makan yang tampak sederhana itu secara perlahan mengubah struktur tajuk hutan, memengaruhi persaingan antarspesies dalam memperebutkan cahaya matahari, dan merangsang pertumbuhan tunas baru.
Peran vital bekantan sebagai agen penebar biji sudah dibuktikan dalam studi ilmiah berjudul โSeed dispersal by proboscis monkeys: the case of Nauclea sppโ. Biji yang dikonsumsi dan dikeluarkan melalui kotoran bekantan memiliki tingkat perkecambahan jauh lebih tinggi dibandingkan biji biasa. Dengan demikian, bekantan membantu regenerasi hutan mangrove secara alami.
Hubungan erat antara bekantan dan mangrove kembali diperkuat oleh penemuan tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Mei 2026. Di kawasan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, mereka mendokumentasikan sekitar 527 individu Camptostemon philippinensis, spesies mangrove langka yang terancam punah. Tanda bekas gigitan pada daun tumbuhan tersebut mengindikasikan bahwa bekantan memanfaatkannya sebagai pakan, sekaligus berperan dalam penyebaran bijinya.
โKerapatan dan kesehatan vegetasi hutan, khususnya kawasan pesisir dan tepian sungai seperti mangrove, merupakan parameter biotis paling krusial dalam menentukan indeks kesesuaian habitat bagi populasi bekantan,โ ungkap para peneliti dalam studi Sakti et al., 2024.
Interaksi timbal balik ini menjadi semakin genting di tengah meningkatnya kerusakan akibat konversi lahan untuk tambak udang, perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur. Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai sumber pakan utama bekantan. Ketika ekosistem itu rusak atau hilang, populasi bekantan dipastikan merosot tajam. BRIN pun menekankan pentingnya riset mendalam mengenai keragaman genetik Camptostemon philippinensis dan peran ekologisnya sebagai dasar strategi konservasi jangka panjang.
Secara global, status bekantan tetap mengkhawatirkan. Badan konservasi dunia IUCN mencatatnya sebagai spesies Endangered atau Genting. Selain hilangnya hutan mangrove, perburuan liar masih terjadi di beberapa wilayah Kalimantan. Riset pemodelan habitat terbaru menggunakan pendekatan ensemble machine learning yang dipublikasikan di jurnal Global Ecology and Conservation pada 2024 menegaskan bahwa kesesuaian habitat bekantan sangat ditentukan oleh keberadaan hutan mangrove, jarak dari sungai, dan tingkat gangguan manusia.
Ke depan, upaya konservasi tidak bisa lagi bersifat parsial. Perlindungan bekantan harus menyatu dengan perlindungan ekosistem mangrove secara keseluruhan. Tanpa langkah terpadu yang melibatkan riset genetik, pengelolaan kawasan, dan pengendalian alih fungsi lahan, bukan hanya bekantan yang akan lenyap, tetapi juga fungsi ekologis hutan mangrove sebagai benteng pesisir dan penyerap karbon. Mampukah Indonesia menjaga simbiosis antara primata unik ini dan hutan bakau yang menopangnya?



