Kontroversi Akuarium Lantai Jason Derulo: Hewan Laut Bukan Hiasan
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Jason Derulo menuai kritik setelah memperlihatkan akuarium bawah lantai di rumahnya yang berisi hiu dan pari, dianggap tidak layak sebagai habitat.
- Warganet di Reddit mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk kekejaman terhadap hewan, karena akuarium dinilai minim elemen pendukung kehidupan alami.
- Kontroversi ini memicu diskusi tentang etika memelihara satwa liar di lingkungan domestik, termasuk di Indonesia yang memiliki aturan ketat terkait kepemilikan hewan eksotis.

Penyanyi Jason Derulo kembali menjadi sorotan publik, kali ini bukan karena karya musiknya, melainkan karena kontroversi akuarium bawah lantai di kediamannya di Tarzana, California. Dalam sebuah tur rumah yang diunggah oleh streamer N3on, Derulo memperlihatkan kolam kaca yang terintegrasi di lantai ruang tamu, berisi beberapa hiu dan pari yang berenang di bawah kaki para tamu. Tampilan yang dianggap unik oleh sang penyanyi justru menuai kecaman keras dari warganet, khususnya di forum Reddit Fauxmoi, yang menilai perlakuan terhadap hewan laut itu tidak manusiawi.
Kritik tidak hanya datang dari aktivis hewan, tetapi juga dari masyarakat umum yang menyaksikan video tersebut. Banyak yang menyebut akuarium itu tidak lebih dari "kolam renang ukuran anak-anak" yang sama sekali tidak menyerupai habitat alami hiu dan pari. Seorang pengguna Reddit menulis, "Tidak ada alasan untuk melakukan ini. Saya benci selebritas yang memperlakukan hewan seperti mainan mengkilap untuk dipamerkan. Dia harus dilaporkan." Pengguna lain menambahkan bahwa setidaknya ada tiga hiu dan beberapa pari di dalam tangki yang nyaris kosong tanpa dekorasi atau elemen pengayaan lingkungan.
Kontroversi ini mengingatkan pada perdebatan etis tentang pemeliharaan satwa liar di lingkungan domestik. Di Indonesia, isu serupa pernah mencuat ketika beberapa artis memelihara hewan eksotis seperti ular piton atau buaya di rumah pribadi. Meskipun belum ada regulasi spesifik yang melarang akuarium lantai, praktik semacam ini kerap dikritik karena dianggap mengabaikan kesejahteraan hewan. Ahli biologi kelautan dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Marlina, menilai bahwa hiu dan pari membutuhkan ruang renang yang luas serta sistem filtrasi yang kompleks. "Akuarium rumah biasa tidak akan pernah bisa memenuhi kebutuhan mereka. Ini bukan sekadar soal estetika, tapi soal kelangsungan hidup hewan tersebut," ujarnya.
Dalam wawancara sebelumnya dengan Graham Bensinger, Derulo menjelaskan bahwa ide akuarium lantai berawal dari keinginannya memiliki "sesuatu yang benar-benar besar di lantai". Ia menyebutkan ada "hiu hutan" dan pari di dalamnya, serta mengakui bahwa hiu-hiu tersebut tidak bisa "berdampingan" dengan ikan lain sehingga memangsanya habis. Pengakuan ini justru memperkuat kritik bahwa Derulo tidak memahami kebutuhan dasar hewan yang dipeliharanya. "Dia bisa saja memasang ikan robot atau efek visual untuk tampilan yang sama. Kekejaman adalah satu-satunya tambahan di sini," tulis seorang warganet.
Kasus Derulo membuka kembali diskusi tentang tanggung jawab selebritas dalam memelihara hewan eksotis. Di era media sosial, setiap tindakan mereka menjadi konsumsi publik dan dapat memicu tren yang berbahaya. Di Indonesia, meskipun tren akuarium lantai belum populer, para penggemar hewan laut diimbau untuk tidak meniru gaya hidup tersebut tanpa konsultasi dengan ahli. Kesejahteraan hewan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar gengsi atau estetika belaka. Pertanyaannya, akankah kontroversi ini mendorong perubahan regulasi yang lebih ketat, atau hanya akan berlalu seperti kasus-kasus sebelumnya?



