Kafe Matcha di Kuil Bersejarah Nagoya: Strategi Baru Sambut Asian Games 2026
Baca dalam 60 detik
- Kuil Banshoji di Nagoya, yang didirikan pada 1540 oleh ayah Oda Nobunaga, membuka kafe matcha interaktif untuk menarik lebih banyak pengunjung, terutama wisatawan Asian Games 2026.
- Kepala pendeta Genyu Daito mengadopsi semangat reformasi Nobunaga—menghapus hambatan dan mendorong pasar bebas—untuk mengubah pendekatan konservatif kuil menjadi lebih terbuka dan agresif dalam menarik pengunjung.
- Kafe Manoma menawarkan pengalaman menyeduh matcha sendiri dan menu bertema klan Oda, menjadi contoh bagaimana tempat ibadah bersejarah dapat beradaptasi dengan tren pariwisata modern tanpa kehilangan esensi tradisional.

Di tengah persiapan Aichi-Nagoya Asian Games 2026, sebuah kuil bersejarah di Nagoya memilih jalur tak biasa: membuka kafe matcha interaktif di area utama bangunan. Kuil Banshoji, yang didirikan pada 1540 oleh Nobuhide—ayah dari panglima perang legendaris Oda Nobunaga—kini menyajikan pengalaman menyeduh teh hijau sendiri bagi pengunjung, sebuah langkah yang dinilai sebagai terobosan dalam konservasi warisan budaya Jepang.
Kafe bernama Manoma ini mulai beroperasi pada November 2025 dan langsung menarik perhatian. Pada awal Mei 2026, seluruh kursi di lantai dua aula utama terisi penuh. Ruangan dirancang menyerupai rumah tradisional Jepang dengan meja rendah, menciptakan suasana santai bagi tamu yang ingin merasakan budaya secara langsung. Menu andalannya adalah matcha yang diseduh sendiri dan latte berhiaskan lambang keluarga Oda—sebuah sentuhan personal yang jarang ditemukan di tempat wisata religi.
Kepala pendeta Genyu Daito, 68 tahun, mengaku terinspirasi oleh semangat reformasi Oda Nobunaga yang dikenal berani menghapus sistem pos pemeriksaan dan mendorong perdagangan bebas pada era Sengoku. “Untuk melestarikan kuil, yang dibutuhkan adalah sikap proaktif, bukan defensif,” ujarnya. Daito melihat Asian Games—yang akan digelar 19 September hingga 4 Oktober 2026 di Nagoya dan prefektur Aichi—sebagai momentum emas untuk meningkatkan kunjungan. Jepang sendiri menjadi tuan rumah Asian Games ketiga kalinya setelah Tokyo 1958 dan Hiroshima 1994.
Konsep kafe ini lahir dari pengamatan Daito terhadap tren kesehatan global yang mendorong popularitas matcha. Ia juga melihat kebutuhan ruang bagi pengunjung untuk berlama-lama, bukan sekadar berdoa lalu pergi. Mika Smith, wisatawan asal New York yang datang untuk berziarah ke makam kakeknya, mengaku senang dengan adanya tempat duduk yang nyaman. “Biasanya saya hanya berdoa dan pergi, tapi sekarang ada ruang untuk duduk dan mengobrol dengan tenang,” katanya. Sementara itu, Terumi Nakagawa dari Tokyo datang setelah melihat unggahan media sosial tentang idola K-pop yang pernah mengunjungi kuil. Ia menilai pakaian tradisional staf kafe menambah daya tarik bagi wisatawan asing.
Bagi Indonesia, yang juga akan berpartisipasi dalam Asian Games 2026, inovasi seperti ini bisa menjadi pelajaran berharga. Banyak situs bersejarah di Tanah Air yang masih mengandalkan pendekatan konservatif, padahal tren pariwisata global mengarah pada pengalaman interaktif dan personal. Jika kuil di Jepang saja berani mengubah fungsi ruang sakral menjadi kafe tanpa kehilangan nilai spiritual, bukan tidak mungkin candi atau masjid kuno di Indonesia bisa mengadopsi strategi serupa—tentu dengan tetap menghormati norma dan aturan setempat.
Daito tidak berhenti di kafe. Ia tengah mempertimbangkan penambahan tempat duduk counter dan menu baru seperti bubur matcha. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara tradisi dan aksesibilitas. Akankah langkah ini menjadi model baru bagi pengelolaan situs warisan di Asia? Atau justru menimbulkan kontroversi karena dianggap mengkomersialkan tempat ibadah? Yang jelas, Banshoji telah membuktikan bahwa inovasi dan pelestarian bisa berjalan beriringan.



