Wasit Somalia yang Ditolak AS untuk Piala Dunia 2026 Kini Pimpin Laga UEFA Super Cup
Baca dalam 60 detik
- Omar Artan, wasit asal Somalia yang gagal bertugas di Piala Dunia 2026 karena ditolak imigrasi AS, ditunjuk UEFA sebagai pengadil laga PSG vs Aston Villa di Super Cup.
- Penunjukan ini dinilai sebagai sinyal politik UEFA terhadap FIFA, memanfaatkan kerja sama dengan CAF untuk memberi peluang pada wasit Afrika.
- Artan akan menjadi wasit non-Eropa pertama yang memimpin UEFA Super Cup, sebuah langkah simbolis di tengah ketegangan hubungan FIFA-AS.

Omar Artan, wasit asal Somalia yang menjadi sorotan setelah ditolak masuk Amerika Serikat untuk memimpin pertandingan Piala Dunia 2026, justru mendapat kehormatan memimpin laga puncak antar klub Eropa. UEFA menunjuknya sebagai wasit utama duel Paris Saint-Germain melawan Aston Villa pada ajang UEFA Super Cup, 12 Agustus mendatang di Salzburg, Austria.
Keputusan ini diumumkan UEFA setelah berkoordinasi dengan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). Presiden UEFA Aleksander Ceferin menyebut Artan sebagai "wasit muda yang sangat baik dan sudah berpengalaman," serta menekankan bahwa sepak bola seharusnya menjadi alat pemersatu. "UEFA ingin menunjukkan rasa hormat kepada Omar dan kemampuan wasitnya yang luar biasa, yang telah membuatnya mendapatkan nominasi prestisius ini," ujar Ceferin dalam pernyataan resmi.
Artan, yang dinobatkan sebagai Wasit Pria Terbaik CAF 2025, seharusnya menjadi wasit pertama asal Somalia yang memimpin laga Piala Dunia. Namun, mimpinya kandas saat otoritas perbatasan di Miami menolak masuk meski ia membawa paspor diplomatik dan visa AS. Pemerintah AS kemudian mengaitkannya dengan dugaan hubungan dengan kelompok militan Al Shabab—tuduhan yang dibantah Artan. "Saya hanya wasit yang mencoba mewujudkan mimpi terbesar saya," katanya kepada New York Times.
Penunjukan Artan terjadi hanya 72 jam setelah ia terbang pulang ke Somalia dengan tangan kosong. UEFA mengaku telah berkoordinasi dengan Asosiasi Sepak Bola Austria untuk memastikan tidak ada masalah imigrasi di Salzburg. Namun, waktu pengumuman ini menimbulkan spekulasi: apakah UEFA sengaja mengambil kesempatan untuk menekan FIFA? Sejak April lalu, UEFA dan CAF menandatangani perjanjian kerja sama yang mencakup pertukaran ofisial—mirip dengan kesepakatan UEFA dengan Conmebol sebelumnya.
Bagi Indonesia, kasus Artan menjadi pengingat akan kerentanan wasit dari negara berkembang terhadap kebijakan imigrasi negara tuan rumah. Meski Indonesia tidak masuk dalam daftar larangan perjalanan Trump, insiden ini menyoroti pentingnya diplomasi olahraga dan jaminan keamanan bagi ofisial asing. Di tengah persaingan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, Indonesia perlu memastikan regulasi imigrasi yang inklusif agar tidak menghambat partisipasi wasit dan pemain dari negara-negara non-barat.
Langkah UEFA juga bisa dibaca sebagai kritik terselubung terhadap FIFA yang dianggap gagal melindungi ofisialnya sendiri. Dengan tiket Piala Dunia 2026 yang mencapai harga rekor, UEFA justru menjanjikan tiket murah untuk Euro 2028—sebuah perbandingan yang mempertegas perbedaan pendekatan. Kini, dengan memberikan panggung kepada Artan, UEFA seolah berkata: "Kami bisa memberi kesempatan yang tidak diberikan FIFA."
Pertanyaan selanjutnya: apakah FIFA akan merespons dengan merevisi kebijakan keamanan atau justru membiarkan ketegangan ini berlarut? Atau, mungkinkah Artan akan menjadi simbol baru perjuangan wasit dari negara terpinggirkan?



