Pogacar Ukir Sejarah di Tour de France, Tapi Kebahagiaan Sejati Datang dari Membantu Rekan Setim
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar menyamai rekor lima gelar Tour de France, menunjukkan dominasi luar biasa di edisi 2025.
- Perubahan sikap Pogacar dari tahun sebelumnya disebabkan oleh fokusnya membantu rekan setim Isaac del Toro meraih podium ketiga.
- Keberhasilan ini mengukuhkan UAE Team Emirates sebagai kekuatan utama, sekaligus membuka peluang Pogacar menaklukkan Vuelta a Espana.

Tadej Pogacar menuntaskan Tour de France 2025 dengan kemenangan kelima yang menyamai rekor legenda seperti Eddy Merckx dan Bernard Hinault. Namun, yang membedakan edisi ini bukan sekadar torehan gelar, melainkan perubahan sikap sang juara: dari pebalap murung menjadi sosok yang menemukan kebahagiaan lewat membantu rekannya, Isaac del Toro, naik podium.
Pogacar, yang tahun lalu mengeluhkan masalah lutut dan kerap terlihat frustrasi di pekan ketiga, tampil riang sepanjang tiga pekan balapan. Puncaknya terlihat ketika ia meninggalkan ruang konferensi pers sambil bersenandung "Torito", julukan untuk Del Toro. Sikap ini menandai transformasi yang tidak biasa bagi seorang pembalap yang sudah mengukuhkan diri sebagai yang terbaik di generasinya.
Dominasi Pogacar begitu mutlak sehingga ia rela mengorbankan kemenangan etape kedua di Barcelona untuk Del Toro, meskipun itu berarti kehilangan bonus detik yang bisa memperkuat posisinya. Ia akhirnya memenangkan lima etape musim ini, menambah koleksi etape Tour-nya menjadi 26 dalam tujuh partisipasi. Keunggulan atas Jonas Vingegaard sudah mencapai lebih dari dua setengah menit sebelum pebalap Denmark itu mundur setelah kecelakaan di etape 15.
Dalam konteks yang lebih luas, kemenangan ini menegaskan superioritas UAE Team Emirates yang tidak hanya bergantung pada Pogacar. Del Toro, pebalap Meksiko berusia 22 tahun, membuktikan diri sebagai calon penerus yang serius. "Mungkin orang akan bicara soal bagaimana saya membantu Isaac naik podium, tapi pertama-tama, dia yang membantu saya mengenakan kuning," ujar Pogacar. "Sungguh suatu kehormatan bisa mengayuh untuknya selama dua jam terakhir. Saya sadar betapa sulitnya bekerja untuk orang lain."
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, kisah Pogacar dan Del Toro menyiratkan pelajaran tentang kepemimpinan dan kerja tim. Di tengah budaya olahraga yang kerap mengedepankan individualitas, sikap Pogacar menunjukkan bahwa keberhasilan tim justru bisa memperkuat pencapaian pribadi. Ini juga mengingatkan pada pentingnya regenerasi: dengan pembalap muda potensial seperti Del Toro, UAE Team Emirates memiliki masa depan yang cerah bahkan jika Pogacar memutuskan pensiun suatu hari nanti.
Pogacar mengakui bahwa ia tidak akan bertahan selamanya. "Saya pasti tidak akan melakukan ini dalam waktu lama, dan Isaac menunjukkan potensi besar. Tapi kami tidak memberikan tekanan padanya. Dia masih muda, cepat belajar, super cerdas, dan punya bakat besar," katanya. Langkah selanjutnya bagi Pogacar adalah menaklukkan Vuelta a Espana, satu-satunya Grand Tour yang belum ia menangi. Jika sukses, ia akan menjadi pebalap kesembilan dalam sejarah yang memenangkan ketiga Grand Tour, sekaligus memperkuat statusnya sebagai salah satu yang terhebat sepanjang masa. Pertanyaannya, akankah ia mampu mempertahankan kebahagiaan dan kerendahan hati yang ia tunjukkan di Tour 2025 saat menghadapi tantangan baru di Spanyol?



