Kembalinya Mancini ke Timnas Italia: Langkah Tepat atau Pengkhianatan?
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini disebut-sebut sebagai kandidat utama pelatih Italia setelah pemilihan presiden FIGC pada 22 Juni 2026.
- Rekor 37 laga tak terkalahkan dan gelar Euro 2020 jadi prestasi, namun kepergian kontroversialnya ke Arab Saudi pada 2023 meninggalkan luka.
- Legenda Italia Gianni Rivera secara terbuka menentang kembalinya Mancini, sementara hubungan baiknya dengan calon presiden FIGC jadi faktor penentu.

Rumor kembalinya Roberto Mancini ke kursi pelatih Timnas Italia kembali mencuat, memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar dan pengamat sepak bola. Pelatih yang membawa Italia juara Euro 2020 itu disebut-sebut sebagai kandidat terkuat setelah pemilihan presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) pada 22 Juni 2026. Namun, keputusan ini tidak lepas dari kontroversi menyusul kepergian mendadaknya pada 2023 lalu.
Mancini sebelumnya menangani Italia sejak 2018 hingga 2023. Di bawah arahannya, Italia mencatat rekor tak terkalahkan terlama dalam sejarah sepak bola internasional: 37 pertandingan beruntun tanpa kekalahan, dengan 93 gol dicetak dan hanya 12 kali kebobolan. Puncaknya adalah kemenangan di Euro 2020, yang mengembalikan kejayaan Italia setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Namun, kegagalan lolos ke Piala Dunia 2022 menjadi noda di akhir masa baktinya.
Kepergian Mancini pada Agustus 2023 memicu kemarahan publik Italia. Ia mengundurkan diri di tengah kualifikasi Euro 2024, hanya untuk menerima tawaran melatih Timnas Arab Saudi beberapa pekan kemudian. Langkah ini dianggap sebagai pengkhianatan, terutama karena ia meninggalkan tim nasional di saat kritis. Pelatih pengganti, Luciano Spalletti, hanya bertahan kurang dari dua tahun sebelum akhirnya dipecat.
Dalam beberapa tahun terakhir, Mancini secara terbuka mengakui bahwa meninggalkan Italia adalah kesalahan. Namun, permintaan maaf itu tidak cukup untuk meredakan kekecewaan banyak pihak. Legenda Italia, Gianni Rivera, dengan tegas menyatakan penolakannya. "Saya kasihan pada Roberto, sungguh. Tapi ketika ia kabur ke Arab Saudi, ia membuat keputusan yang memaksa kami semua untuk tidak menginginkannya sebagai pelatih Italia. Ia menawarkan diri lagi, tapi ia salah satu yang pertama menyakiti tim nasional. Saya harap ia tidak kembali," ujar Rivera pada April lalu.
Hubungan baik Mancini dengan Giovanni Malagò, yang diunggulkan memenangkan pemilihan presiden FIGC, menjadi faktor kunci. Menurut laporan Fabrizio Romano dan Sky Sport Italia, Mancini adalah favorit untuk menggantikan Spalletti. Namun, pertanyaan besarnya: apakah publik Italia siap melupakan masa lalu dan memberi kesempatan kedua?
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi cermin bagaimana hubungan antara pelatih dan federasi bisa rumit. Di tengah upaya PSSI membangun timnas yang kompetitif, stabilitas kepelatihan menjadi krusial. Kasus Mancini mengingatkan bahwa prestasi gemilang sekalipun tidak menjamin pengampunan jika ada pengkhianatan persepsi. Keputusan FIGC nantinya akan menjadi preseden menarik tentang bagaimana federasi sepak bola menyeimbangkan antara rekam jejak dan loyalitas.
Apakah Mancini layak mendapatkan kesempatan kedua? Ataukah langkah ini justru akan membuka luka lama dan mengganggu harmoni tim? Jawabannya akan diketahui setelah pemilihan presiden FIGC, namun satu hal pasti: keputusan ini tidak akan mudah diterima semua pihak.



