Mancini Tinggalkan Al Sadd, Peluang Kembali ke Timnas Italia Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini resmi hengkang dari Al Sadd, klub juara Qatar Stars League, setelah kontraknya diputus lebih awal.
- Pelatih 61 tahun itu disebut-sebut sebagai kandidat utama menukangi Italia yang gagal lolos ke Piala Dunia 2026.
- Kepergian Mancini membuka spekulasi baru di sepak bola Asia, termasuk dampaknya bagi persaingan klub-klub Qatar di level Asia.
Roberto Mancini kembali menjadi sorotan setelah secara resmi meninggalkan kursi pelatih Al Sadd, klub raksasa Qatar Stars League, pada Sabtu (13/6). Keputusan ini memicu spekulasi bahwa pelatih berusia 61 tahun itu akan segera mengambil alih kendali tim nasional Italia, yang tengah berjuang bangkit dari keterpurukan setelah gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Mancini bergabung dengan Al Sadd pada Juli 2023 dengan kontrak hingga 2027, setelah sebelumnya menangani timnas Arab Saudi. Namun, masa baktinya di Doha hanya berlangsung kurang dari dua musim. Meskipun berhasil membawa Al Sadd meraih gelar juara QSL musim lalu, kegagalan di pentas Asia dan final Piala Qatar menjadi catatan yang membayangi pencapaian tersebut. Al Sadd tersingkir di babak perempat final Liga Champions Elite AFC dan kalah di final Piala Qatar.
Kepergian Mancini dari Al Sadd terjadi di tengah kekosongan kursi pelatih Italia. Sejak Gennaro Gattuso mengundurkan diri pada April lalu setelah kekalahan dari Bosnia-Herzegovina di kualifikasi Piala Dunia, timnas Italia hanya ditangani sementara oleh Silvio Baldini, yang sebelumnya menukangi tim U-21. Baldini dianggap sebagai solusi jangka pendek, sementara federasi Italia (FIGC) mencari figur tetap yang mampu mengembalikan kejayaan Gli Azzurri.
Media Italia ramai memberitakan bahwa Mancini adalah favorit utama untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Gattuso. Reputasinya sebagai arsitek kemenangan Italia di Euro 2020 menjadi modal berharga. Namun, tantangan yang dihadapi tidak ringan: Italia harus membangun kembali skuad yang kompetitif setelah dua kali absen di Piala Dunia (2018 dan 2022), serta bersaing di kualifikasi Piala Dunia 2026 yang akan dimulai tahun depan.
Bagi pengamat sepak bola di Indonesia, pergerakan Mancini ini menarik karena menunjukkan betapa dinamisnya bursa pelatih di kawasan Asia dan Eropa. Kehadiran pelatih top seperti Mancini di Qatar sempat meningkatkan profil kompetisi domestik, namun kepulangannya ke Italia bisa menjadi preseden bagi pelatih asing lain yang melatih di Asia. Selain itu, kegagalan Al Sadd di Liga Champions Elite AFC mengingatkan bahwa dominasi klub-klub Qatar tidak selalu berbanding lurus dengan prestasi di level Asia, sebuah pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang mulai berinvestasi di kompetisi regional.
Langkah selanjutnya Mancini masih belum diumumkan secara resmi. Namun, jika ia benar-benar kembali ke Italia, tantangan terbesarnya adalah menyatukan kembali tim yang sempat tercerai-berai dan mengembalikan mentalitas juara yang sempat hilang. Pertanyaan besarnya: mampukah Mancini mengulang sukses Euro 2020 dan membawa Italia kembali ke panggung Piala Dunia?



