Nico Paz Lebih Pilih Bertahan di Como: Real Madrid Dihadapkan pada Dilema Buyback
Baca dalam 60 detik
- Gelandang serang Argentina, Nico Paz, menyatakan keinginan untuk bertahan di Como dan berlaga di Liga Champions musim depan, meski Real Madrid memiliki opsi pembelian kembali.
- Keputusan Los Blancos untuk merekrut Bernardo Silva secara gratis dari Manchester City bisa mengurangi urgensi mereka mengaktifkan klausul buyback Paz.
- Como optimistis Paz akan tetap berseragam biru-putih, namun keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Real Madrid yang harus memilih antara memulangkan pemain mudanya atau mengamankan bintang Portugal.

Nico Paz telah menyampaikan secara langsung kepada Real Madrid bahwa ia ingin bertahan di Como untuk berlaga di Liga Champions musim depan. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa sang gelandang serang lebih memilih melanjutkan karier di Serie A daripada kembali ke Santiago Bernabéu, meskipun Los Blancos memiliki hak opsi pembelian kembali.
Pemain berusia 20 tahun itu menjadi salah satu bintang Serie A musim lalu. Ia menjadi motor permainan Como yang secara dramatis lolos ke Liga Champions pada hari terakhir kompetisi, berkat kemenangan atas Cremonese dan kekalahan AC Milan dari Cagliari. Kontribusinya yang signifikan membuat Paz merasa memiliki ikatan emosional dengan klub yang membesarkan namanya di Italia.
Menurut laporan Fabrizio Romano yang dikutip CalcioMercato, Paz telah mengomunikasikan preferensinya kepada manajemen Real Madrid. Ia ingin menjalani musim kedua di Danau Como dan merasakan atmosfer Liga Champions bersama tim yang ia bantu loloskan. Faktor ini menjadi pertimbangan penting dalam negosiasi antara kedua klub.
Real Madrid sendiri masih tertarik untuk membawa pulang Paz. Namun, situasi di lini tengah mereka mulai berubah. Los Blancos dikabarkan telah mengajukan tawaran resmi kepada Bernardo Silva, yang akan meninggalkan Manchester City sebagai agen bebas pada akhir Juni. Negosiasi dengan pemain asal Portugal itu disebut sudah memasuki tahap lanjut.
Jika Real Madrid berhasil mengamankan tanda tangan Silva, kebutuhan mereka untuk merekrut kembali Paz bisa berkurang secara signifikan. Apalagi, pelatih anyar Como, Cesc Fàbregas, dikabarkan sangat menginginkan Paz bertahan dan telah menyusun rencana permainan yang berpusat padanya.
Di sisi lain, kehadiran pelatih seperti José Mourinho yang dikabarkan tertarik membawa Paz ke Fenerbahçe—meski belum ada tawaran resmi—menambah dinamika persaingan. Namun, Mourinho sendiri saat ini lebih fokus memburu pemain lain untuk memperkuat skuadnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, saga Nico Paz menjadi contoh menarik tentang bagaimana klub-klub Eropa mengelola pemain muda berbakat. Di tengah gencarnya klub-klub Italia merekrut talenta Argentina—seperti yang dilakukan Inter Milan dengan Lautaro Martinez—keputusan Paz bisa menjadi preseden bagi pemain muda lainnya yang ingin mengembangkan karier di Serie A sebelum kembali ke klub besar.
Como sendiri optimistis dapat mempertahankan Paz. Namun, mereka sadar bahwa keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Real Madrid. Jika Los Blancos memutuskan untuk mengaktifkan klausul buyback, Como tidak memiliki daya tawar. Pertanyaannya sekarang: akankah Real Madrid mengorbankan prospek jangka panjang Paz demi mendatangkan Silva yang sudah matang, atau justru sebaliknya?



