Gempa Magnitudo 4,2 Kembali Terjadi di Sumba Barat Daya, Warga Diimbau Tenang
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,2 mengguncang wilayah Kodi, Sumba Barat Daya, NTT, pada Kamis pagi.
- Pusat gempa berada di laut dengan kedalaman 40 kilometer, dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami, sehingga aktivitas masyarakat diharapkan tetap normal.
- Kejadian ini menjadi pengingat akan tingginya aktivitas seismik di Indonesia, khususnya di kawasan Nusa Tenggara yang berada pada jalur cincin api Pasifik.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,2 kembali menggunakan wilayah Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis (11/6/2026) pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan guncangan ini tidak berpotensi tsunami, namun masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Berdasarkan rilis resmi BMKG, gempa terjadi pada pukul 08.57 WIB dengan episenter terletak di koordinat 9,23 Lintang Selatan dan 118,44 Bujur Timur. Pusat gempa berada sekitar 72 kilometer barat laut Kodi, dengan kedalaman 40 kilometer. Guncangan dirasakan di wilayah sekitar, namun hingga saat ini belum ada laporan kerusakan berarti atau korban jiwa.
Wilayah NTT memang dikenal sebagai daerah rawan gempa karena berada di pertemuan lempeng tektonik aktif. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana seismik. "Gempa dengan magnitudo kecil seperti ini sebenarnya wajar terjadi, tetapi kita tidak boleh lengah karena bisa menjadi pertanda aktivitas tektonik yang lebih besar," ujarnya dalam keterangan sebelumnya.
BMKG mengingatkan bahwa informasi gempa yang dirilis masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring kelengkapan data. Masyarakat diminta tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya dan selalu merujuk pada data resmi BMKG. Pemerintah daerah setempat juga telah mengaktifkan posko siaga untuk memantau perkembangan pasca-gempa.
Bagi warga Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah rawan gempa, kejadian ini menjadi pengingat untuk selalu menyiapkan rencana evakuasi dan perlengkapan darurat. Meskipun gempa kali ini tidak menimbulkan kerusakan signifikan, sejarah mencatat bahwa gempa kecil seringkali mendahului gempa besar. Oleh karena itu, edukasi kebencanaan dan simulasi rutin perlu terus digalakkan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa sering gempa serupa akan terjadi di wilayah ini, dan apakah infrastruktur serta kesiapan masyarakat sudah cukup untuk menghadapi skenario terburuk. Dengan meningkatnya frekuensi gempa di NTT dalam beberapa tahun terakhir, langkah mitigasi yang lebih terstruktur menjadi sebuah keniscayaan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259054/original/094853000_1781441071-VID-20260614-WA0054_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4115359/original/011653100_1659849791-IMG20220807092959.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8258679/original/060323900_1781401081-IMG_20260613_234328.jpg)
