Jodie Foster: Satu-satunya Aktris Hollywood yang Masih Punya 'Jowls' untuk Peran Nenek Pecandu
Baca dalam 60 detik
- Jodie Foster, 63 tahun, menolak operasi plastik dan Botox, siap memerankan karakter 'nenek pecandu' di usia 70-an.
- Ia mengaku dekade 50-an penuh kecemasan karena tekanan sosial, namun memasuki usia 60 justru merasa lebih bebas dan puas dengan karya.
- Foster juga menerapkan prinsip non-intervensi dalam karier akting putranya, berbeda dengan pola asuh ibunya sendiri.

Jodie Foster, aktris pemenang Oscar yang kini berusia 63 tahun, justru antusias menanti tawaran peran 'nenek pecandu' di usia 70-an—sebuah peran yang menurutnya hanya bisa ia mainkan karena ia tidak pernah melakukan operasi plastik atau suntik Botox. Dalam wawancara dengan The Telegraph, Foster menegaskan keputusannya untuk tetap alami membuatnya menjadi salah satu dari sedikit aktris Hollywood yang masih memiliki kerutan dan kulit kendur alias 'jowls' yang dibutuhkan untuk karakter semacam itu.
Foster mengakui bahwa dekade 50-an merupakan masa yang sulit baginya. Ia merasa tertekan oleh ekspektasi sosial untuk bersaing dengan aktris yang lebih muda dan citra dirinya sendiri saat berusia 20-an. “Saya dipenuhi kecemasan dan perasaan tidak cukup,” ungkapnya. Namun, begitu memasuki usia 60, sesuatu berubah. “Saya merasa, 'Oh wow, saya tidak peduli.' Karya saya lebih baik dari sebelumnya, dan saya lebih bahagia di tempat kerja,” katanya. Ia mencontohkan perannya dalam serial True Detective dan film The Mauritanian sebagai pengalaman paling memuaskan dalam kariernya.
Keputusan Foster untuk menolak intervensi estetika dianggap langka di Hollywood yang gemar dengan peremajaan wajah. Ia bercanda bahwa nantinya ia akan menjadi satu-satunya aktris yang masih memiliki 'jowls' untuk memerankan karakter nenek pecandu. “Saya menantikan itu,” ujarnya sambil tertawa. Pernyataan ini menjadi kritik halus terhadap industri hiburan yang kerap memaksakan standar kecantikan tertentu, terutama pada aktris senior.
Di luar soal penampilan, Foster juga membahas pola asuhnya terhadap kedua putranya, Charlie (25 tahun) dan Kit (24 tahun), dari mantan pasangannya Cydney Bernard. Ia mengaku sangat berhati-hati untuk tidak ikut campur dalam karier akting Charlie. “Saya tidak memberikan opini apa pun tentang apa yang dia lakukan. Saya berusaha bersikap positif dan netral, karena ibu saya tidak seperti itu,” jelas Foster. Ia ingin anak-anaknya merasa bahwa kesuksesan atau kegagalan mereka adalah hasil usaha sendiri, tanpa bantuan darinya. Sementara Kit, yang berprofesi sebagai ilmuwan, kerap mengirimkan risetnya kepada Foster—meski ia mengaku tidak memahami apa pun yang dijelaskan putranya.
Pernyataan Foster ini mengundang refleksi bagi publik Indonesia, di mana tekanan untuk tampil awet muda juga semakin kuat, terutama di kalangan selebritas dan figur publik. Fenomena operasi plastik dan perawatan anti-penuaan marak dilakukan, namun Foster menunjukkan bahwa penerimaan diri dan fokus pada kualitas karya bisa menjadi alternatif yang lebih bermakna. Pertanyaannya, mampukah industri hiburan Tanah Air memberikan ruang yang sama bagi aktris senior tanpa harus mengubah wajah mereka?



