Springsteen Menyesal Tolak Permintaan Bono untuk Iklan Amal: 'Kesalahan Besar'
Baca dalam 60 detik
- Bruce Springsteen secara terbuka meminta maaf kepada Bono karena menolak izin penggunaan lagunya untuk kampanye amal HIV/AIDS.
- Penolakan itu terjadi saat Bono mengajak Springsteen berkolaborasi dalam iklan GAP untuk mendukung (RED), yayasan yang didirikannya.
- Permintaan maaf disampaikan Springsteen saat menerima penghargaan di Tribeca Festival, di mana Bono menjadi pembawa acara.

Legenda rock Bruce Springsteen mengakui bahwa dirinya membuat keputusan yang keliru saat menolak permintaan Bono, vokalis U2, untuk menggunakan lagu Girls in Their Summer Clothes dalam kampanye iklan amal. Penyesalan itu diungkapkan secara terbuka di hadapan publik saat keduanya berada di panggung Tribeca Festival, New York, pekan ini.
Insiden itu bermula ketika Bono, yang juga pendiri yayasan (RED) yang fokus pada penanggulangan HIV/AIDS, mengajak Springsteen berpartisipasi dalam kemitraan dengan merek pakaian GAP. Bono ingin menggunakan lagu Springsteen untuk menarik perhatian publik terhadap isu AIDS, namun sang rocker menolak. Kini, lebih dari satu dekade kemudian, Springsteen menyesali keputusannya.
“Itu adalah kesalahan besar. Seharusnya saya setuju,” ujar Springsteen saat menerima Harry Belafonte Voices for Social Justice Award di Tribeca Festival, seperti dikutip dari pernyataan resmi. “Lagu itu sangat saya cintai. Saya masih memikirkannya: Bono memintamu untuk menempatkan lagu ini di iklan televisi. Seharusnya saya lakukan! Orang-orang akan mendengarnya seperti hits, Anda tahu? Jadi saya harus minta maaf.”
Bono, yang memberikan penghargaan tersebut, memuji Springsteen sebagai “Amerika”. Menurutnya, musisi berusia 76 tahun itu berhasil membuat puisi dari suara rakyat dan menuangkannya ke dalam musik. Namun, di balik pujian itu, Bono juga mengakui adanya tantangan bagi musisi kelas dunia untuk tetap terhubung dengan kelas pekerja. Ia mengkhawatirkan bahwa kelompok progresif “kehilangan sedikit” sentuhan itu, dan tuduhan elitisme terhadap dirinya “tidak sepenuhnya salah”.
Dalam dialog yang mengharukan, Bono bertanya kepada Springsteen apakah ia merasa terombang-ambing antara basis penggemar lamanya yang mungkin kini tidak lagi sepaham dengan pandangan politiknya. Springsteen menjawab dengan filosofis: “Ada lagu rakyat klasik, Which Side Are You On? Kamu harus mengambil sikap dan mengikuti keyakinanmu, serta percaya bahwa keyakinan itu bisa dijelaskan dan dipahami oleh sesama warga. Dan kamu harus percaya bahwa Amerika adalah argumen sakral dan kompromi.”
Pertemuan dua ikon rock ini tidak hanya menjadi ajang reuni, tetapi juga refleksi tentang peran seniman dalam isu sosial. Bagi penggemar musik di Indonesia, kisah ini mengingatkan bahwa keputusan artistik—meski tampak sepele—dapat berdampak besar pada upaya kemanusiaan. Di tengah maraknya kampanye amal yang melibatkan selebritas Tanah Air, pelajaran dari Springsteen menjadi pengingat bahwa kadang kebaikan hati lebih berharga daripada kesempurnaan artistik.
Ke depan, akankah Springsteen mendapat kesempatan kedua untuk berkolaborasi dengan Bono dalam proyek amal? Ataukah penyesalan ini akan menjadi pelajaran abadi bagi para musisi yang terlalu protektif terhadap karya mereka? Yang jelas, pengakuan jujur seorang legenda membuka ruang diskusi tentang prioritas antara seni dan kemanusiaan.



