Pogacar Samai Rekor Legenda, Van der Poel Kunci Etape Terakhir dengan Dramatis
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar memenangi Tour de France kelima kalinya, menyamai rekor Jacques Anquetil, Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Miguel Indurain.
- Pembalap Belanda Mathieu van der Poel memenangi etape terakhir di Champs-รlysรฉes setelah sprint sengit mengalahkan Mads Pedersen.
- Dominasi Pogacar yang nyaris tanpa cela memicu perdebatan tentang masa depan kompetitif balap sepeda, namun pencapaiannya diakui sebagai yang terbaik sepanjang masa.

Tadej Pogacar resmi mencatatkan namanya dalam sejarah Tour de France setelah memenangi edisi 2025 untuk kelima kalinya. Pembalap Slovenia berusia 27 tahun itu finis di Paris bersama peloton utama, bergabung dengan deretan legenda seperti Jacques Anquetil, Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Miguel Indurain sebagai pemegang rekor kemenangan terbanyak.
Final stage yang berlangsung Minggu (27/7) dimenangi oleh Mathieu van der Poel dari Belanda. Pembalap Alpecin-Premier Tech itu memenangi sprint dramatis di atas batu bulat Champs-รlysรฉes, mengalahkan Mads Pedersen (Denmark) hanya dalam hitungan sentimeter. Etape yang semula direncanakan sepanjang 133 km dipangkas menjadi 89 km setelah petugas pemadam kebakaran dialihkan untuk menangani kebakaran hutan di barat daya Prancis.
Pogacar, yang memperkuat UAE Team Emirates-XRG, mencatat empat kemenangan etape selama Tour tahun ini, termasuk pendakian rekor di Alpe d'Huez pada etape 19. Ia juga merebut jersey kuning untuk ketiga kalinya berturut-turut. Meski demikian, penampilannya yang terlalu dominan menuai sorakan negatif dari sebagian penonton yang khawatir balap sepeda kehilangan elemen kompetitif. Hingga saat ini, Pogacar telah mengoleksi 126 kemenangan dalam karier profesional delapan tahun.
Di balik gemilangnya Pogacar, turnamen tahun ini diwarnai kontroversi. Jonas Vingegaard, satu-satunya yang mampu mematahkan dominasi Pogacar dalam dua tahun terakhir, harus mundur setelah kecelakaan di tikungan mudah pada etape 15. Sorotan tajam kemudian tertuju pada International Testing Agency (ITA) yang melakukan tes doping dadakan pada pukul 02.00 dini hari terhadap Vingegaard, dan pukul 05.00 terhadap Pogacar. ITA mengklaim ada 'keadaan luar biasa' yang membenarkan tes malam hari yang jarang dilakukan itu. Hasil tes masih belum dipublikasikan.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, pencapaian Pogacar menjadi inspirasi. Olahraga sepeda di Tanah Air semakin populer dengan digelarnya event seperti Tour de Indonesia dan semakin banyaknya pembalap muda yang menekuni balap jalan raya. Menurut pengamat olahraga Universitas Indonesia, Arif Budiman, dominasi Pogacar bisa menjadi motivasi bagi atlet Indonesia untuk menembus level tertinggi, meski masih membutuhkan infrastruktur dan pembinaan yang lebih serius. "Prestasi Pogacar menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan dukungan tim, tidak ada yang mustahil," ujarnya.
Pogacar sendiri mengaku belum memikirkan target berikutnya. Namun dengan usianya yang masih muda, ia berpeluang memecahkan rekor kemenangan Tour de France yang kini hanya dipegang lima orang. Pertanyaannya: sanggupkah ia mempertahankan level performa ini dalam tiga tahun ke depan, atau akankah muncul pesaing baru seperti Paul Seixas (19 tahun, Prancis) yang dinilai banyak pihak sebagai calon rival abadi?



