Man City Naikkan Tawaran untuk Anderson, Nottingham Forest Patok Harga Rp2,4 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Manchester City mengajukan tawaran kedua senilai £106 juta plus bonus £15 juta untuk Elliot Anderson, namun Nottingham Forest bersikeras membutuhkan setidaknya £120 juta tunai.
- Anderson, gelandang serba bisa berusia 22 tahun, menjadi rebutan setelah musim gemilang membantu Forest bertahan di Premier League.
- Sikap keras Forest menunjukkan nilai strategis pemain homegrown yang langka, memaksa City mempertimbangkan alternatif seperti Sandro Tonali.
Manchester City kembali menggebrak bursa transfer dengan mengajukan tawaran kedua untuk Elliot Anderson, gelandang muda Nottingham Forest yang tampil cemerlang musim lalu. Namun, The Tricky Trees tak bergeming—mereka menginginkan rekor transfer Premier League dengan mahar di atas £120 juta atau setara Rp2,4 triliun.
Menurut pakar transfer Fabrizio Romano, proposal terbaru City senilai £106 juta sebagai biaya tetap plus £15 juta tambahan berdasarkan pencapaian langsung ditolak. Forest menganggap angka itu masih jauh dari ekspektasi. Klub asuhan Vitor Pereira itu bersikeras hanya akan melepas Anderson jika ada jaminan dana tunai minimal £120 juta, tanpa bergantung pada bonus yang rumit.
Anderson, 22 tahun, menjelma menjadi salah satu gelandang paling lengkap di Premier League musim 2025/26. Kombinasi energi, kreativitas, dan kecerdasan taktisnya menjadi kunci Forest lolos dari degradasi. Performa itu menarik minat raksasa seperti City, yang melihatnya sebagai investasi jangka panjang berkat fleksibilitasnya di berbagai peran lini tengah.
Bagi Forest, kehilangan Anderson bakal menjadi pukulan berat. Ia bukan hanya pemain kunci di lapangan, tetapi juga simbol proyek jangka panjang klub. Namun, dengan tekanan finansial dan ambisi City yang tak kenal menyerah, negosiasi diprediksi memanas. City kini dihadapkan pada pilihan: menaikkan tawaran atau beralih ke target alternatif seperti Sandro Tonali dari Newcastle.
Di Indonesia, saga transfer ini menarik dicermati karena menunjukkan bagaimana klub Premier League memanfaatkan status homegrown untuk mematok harga selangit. Bagi pengamat sepak bola nasional, kasus Anderson menjadi contoh nyata bahwa nilai pemain tak hanya diukur dari kontribusi di lapangan, tetapi juga usia, potensi, dan status regulasi. Jika City akhirnya memecahkan rekor transfer, dampaknya akan terasa hingga ke bursa pemain Asia, termasuk potensi kenaikan harga pemain Indonesia yang merumput di Eropa.
Romano menambahkan bahwa City masih menjadikan Anderson prioritas utama, meski opsi lain sudah disiapkan. Pertanyaan besarnya: akankah The Citizens berani memecahkan rekor transfer Inggris demi seorang gelandang yang belum genap setahun menjadi starter reguler? Ataukah mereka akan mundur dan mengalihkan dana ke target yang lebih realistis?



