Kebangkitan Exeter: Slade Arsitek Comeback Bersejarah ke Final Premiership
Baca dalam 60 detik
- Henry Slade memimpin Exeter Chiefs membalikkan defisit 26-10 menjadi kemenangan 27-26 atas Bath di semifinal Premiership.
- Pelatih Rob Baxter memuji peran Slade sebagai katalis kepercayaan diri tim, meski pemain berusia 33 tahun itu sempat mendapat kartu kuning.
- Exeter menjadi tim peringkat ketiga pertama yang lolos ke final, mengakhiri masa sulit setelah kehilangan banyak bintang pasca-pandemi.

Henry Slade, playmaker sekaligus kapten di lapangan, menjadi pusat kebangkitan dramatis Exeter Chiefs yang menaklukkan Bath 27-26 di semifinal Premiership Rugby, Sabtu lalu. Tertinggal 26-10 di babak pertama, Exeter mencatat sejarah sebagai tim peringkat ketiga pertama yang sukses menembus partai puncak.
Pelatih kepala Rob Baxter tidak menyembunyikan kekagumannya pada Slade, yang musim ini memuncaki daftar pencetak poin Premiership. "Dia dalam performa kelas dunia," ujar Baxter kepada BBC Sport. Namun, momen kontroversial sempat mewarnai laga ketika Slade mendapat kartu kuning karena sengaja menjatuhkan bola di babak pertama. Baxter menyebutnya sebagai "tindakan paling bodoh" dari pemain paling berpengalaman di timnya.
"Bahkan dia sendiri langsung sadar setelah melakukannya. Anda bisa melihat ekspresinya seperti 'kenapa saya melakukan itu?'," cerita Baxter. Meski demikian, Slade kembali ke lapangan dan mengatur serangan balik yang mengubah jalannya pertandingan. Dua percobaan di babak kedua membawa Exeter unggul tipis, memastikan tiket ke Twickenham.
Bagi Exeter, pencapaian ini adalah puncak dari kebangkitan setelah masa sulit. Kepergian bintang-bintang seperti Jack Nowell, Luke Cowan-Dickie, dan Sam Simmonds akibat dampak finansial pandemi sempat membuat tim terpuruk. Dua musim berturut-turut di peringkat ketujuh, lalu musim lalu anjlok ke posisi sembilan dengan rekor kekalahan terburuk dalam sejarah klub. "Kami punya banyak pemain baru yang belum pernah merasakan musim yang layak di Exeter. Saya mulai frustrasi," ungkap Baxter.
Salah satu pemain yang menjadi perhatian Baxter adalah Scott Sio, mantan prop Australia yang bergabung empat tahun lalu. "Saya membawanya dengan janji membangun sesuatu yang istimewa, tapi salah satu musimnya adalah yang terburuk dalam sejarah klub. Dia berkomitmen penuh, dan saya merasa tidak adil," kata Baxter. Kini Sio, bersama Christ Tshiunza dan Rusi Tuima, berkesempatan menutup karier mereka di Exeter dengan gelar juara.
Di final, Exeter akan berhadapan dengan Northampton Saints, pemuncak klasemen musim reguler. Pertandingan dijadwalkan berlangsung Sabtu pekan depan di Twickenham. Baxter berharap pengalaman Slade dan sisa pemain era keemasan bisa menjadi pembeda. "Ketika Anda pernah berada di situasi tertinggal dan berhasil bangkit, Anda tidak membatasi diri. Slade membantu pemain lain percaya pada kemungkinan itu," pungkas Baxter.
Pertanyaannya, mampukah Exeter mengulang kejayaan 2020? Atau justru Northampton yang akan memutus puasa gelar mereka sejak 2014? Final akhir pekan depan akan menjawabnya.



