Tiga Pelaut India Tewas dalam Serangan AS di Teluk Oman: New Delhi Protes Keras
Baca dalam 60 detik
- Serangan militer AS terhadap kapal tanker MT Settebello di Teluk Oman menewaskan tiga warga India, memicu protes diplomatik dari New Delhi.
- Dalam sepekan, tiga kapal berbendera asing dengan kru India menjadi sasaran, menimbulkan kekhawatiran atas keselamatan ribuan pelaut India di kawasan Teluk.
- Ketegangan AS-Iran yang memuncak sejak Februari 2025 mengancam stabilitas jalur energi global, dengan Selat Hormuz sebagai titik rawan utama.

Tiga awak kapal asal India dipastikan tewas setelah Angkatan Laut Amerika Serikat menyerang sebuah kapal tanker minyak di Teluk Oman, yang dituduh melanggar blokade terhadap pelabuhan Iran. Insiden ini memicu protes keras dari Pemerintah India dan kembali menyoroti risiko tinggi yang dihadapi pelaut sipil di tengah eskalasi konflik AS-Iran.
Kapal MT Settebello, berbendera Palau, diserang pada Rabu (14/5) dengan 24 kru India di dalamnya. Sebanyak 21 orang berhasil dievakuasi, sementara tiga lainnya—Aditya Sharma (kadet), Shivanand Chaurashiya (fitter), dan Patnala Suresh (kepala teknisi)—dinyatakan tewas. Menteri Perkapalan India Sarbananda Sonowal mengonfirmasi bahwa jenazah ketiganya akan segera dipulangkan.
Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian aksi militer AS di perairan Teluk Oman dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, kapal tanker Marivex (Palau) dan MT Jalveer (Guinea-Bissau) juga menjadi sasaran. Seluruh kapal tersebut membawa kru India, meskipun berbendara asing. Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan bahwa serangan dilakukan dengan "amunisi presisi" ke ruang mesin setelah kapal berulang kali tidak mematuhi instruksi.
Pemerintah India melalui Kementerian Luar Negeri memanggil Kuasa Usaha AS di New Delhi untuk menyampaikan "keprihatinan mendalam" atas serangan beruntun tersebut. Juru bicara Kemenlu Randhir Jaiswal menegaskan bahwa India telah melayangkan protes keras. Namun, serangan ketiga terhadap MT Jalveer terjadi sehari setelah protes disampaikan, menunjukkan bahwa tekanan diplomatik belum membuahkan hasil.
Di dalam negeri India, keluarga korban menuntut investigasi. Rajesh Sharma, ayah dari Aditya Sharma, mempertanyakan mengapa kapten kapal memilih berlayar dekat Selat Hormuz—jalur air yang kini menjadi zona konflik. "Siapa yang bertanggung jawab atas kematian ini? Keadaan yang menyebabkan kematian harus diselidiki," ujarnya kepada BBC. Serikat pelaut India (FSUI) juga menyoroti bahwa AS seharusnya memiliki informasi mengenai kewarganegaraan kru sebelum melancarkan serangan. "Menahan kapal adalah alternatif yang lebih manusiawi," kata Sekjen FSUI Manoj Yadav.
Bagi Indonesia, eskalasi di Teluk Oman dan Selat Hormuz membawa implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, gangguan pasokan dari kawasan ini berpotensi menaikkan harga energi domestik. Selain itu, keselamatan pelaut Indonesia yang juga banyak bekerja di kapal niaga internasional patut diwaspadai. Data Kementerian Luar Negeri RI mencatat ribuan WNI bekerja sebagai awak kapal di perairan internasional, termasuk di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan AS-Iran terus memanas. Presiden Donald Trump mengancam akan menghantam Iran "keras" karena dinilai memperlambat negosiasi damai. Konflik yang dimulai sejak 28 Februari 2025—setelah serangan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran—telah meluas ke Lebanon dan mengancam gencatan senjata rapuh yang disepakati April lalu. Dengan blokade yang masih berlangsung, risiko terhadap pelayaran sipil dan stabilitas energi global diperkirakan akan meningkat dalam waktu dekat.



