Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno: Merawat Api Perjuangan di Tengah Dinamika Bangsa
Baca dalam 60 detik
- Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri melakukan ziarah rutin ke makam Bung Karno di Blitar pada Minggu, 14 Juni 2026, didampingi keluarga dan petinggi partai.
- Ziarah ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan simbol komitmen menjaga nilai-nilai Pancasila dan semangat perjuangan yang diwariskan sang proklamator.
- Momen refleksi ini menjadi pengingat bagi kader partai untuk tetap berpijak pada akar sejarah di tengah tantangan politik kontemporer.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259056/original/020544500_1781442659-WhatsApp_Image_2026-06-14_at_19.27.58.jpeg)
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri kembali menapaki tanah Blitar, Jawa Timur, untuk berziarah ke makam sang ayah, Proklamator RI Soekarno, pada Minggu (14/6/2026). Kedatangan putri pertama Bung Karno ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah pernyataan politik yang sarat makna: menjaga api perjuangan tetap menyala di tengah pusaran dinamika kebangsaan yang kian kompleks.
Megawati tiba di Bandara Kediri dari Bali, lalu langsung menuju Kompleks Makam Bung Karno. Rombongan tidak hanya diisi oleh keluarga intiโputranya M. Prananda Prabowo dan cicitnyaโtetapi juga sejumlah anggota keluarga besar seperti Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno. Kehadiran para petinggi partai, termasuk Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Deddy Yevri Sitorus, Darmadi Durianto, Ronny Talapessy, dan Said Abdullah, menegaskan bahwa ziarah ini memiliki bobot politik yang tidak bisa diabaikan. Turut hadir Guru Besar Universitas St. Petersburg Rusia Connie Rahakundini Bakrie dan anggota DPR RI Fraksi PDIP Samuel Wattimena, menambah dimensi intelektual dalam rombongan.
Suasana haru mewarnai prosesi doa. Usai berdoa, Megawati keluar dari area makam dengan digandeng Prananda Prabowo, lalu melambaikan tangan kepada warga yang telah menunggu. Momen spontan terjadi ketika seorang ibu berkaus kuning menerobos kerumunan dan bersalaman seraya mengucap syukur. Megawati juga menyempatkan diri berbincang dengan tiga anak di lokasi, menunjukkan sisi humanis yang kerap ditampilkan di hadapan publik.
Bagi Megawati, ziarah ini adalah tradisi yang terus dirawat sebagai bentuk penghormatan sekaligus refleksi atas perjalanan bangsa. Dalam beberapa tahun terakhir, ia tercatat hadir pada peringatan Haul Bung Karno ke-54 pada Juni 2024, peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika pada November 2025, dan ziarah bersama keluarga besar pada Maret 2026. Setiap kunjungan memiliki bobot historis dan politis yang saling menguatkan.
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa ziarah ini adalah cara Megawati merawat api perjuangan yang tak pernah padam. "Di tengah dinamika bangsa yang semakin kompleks, Bung Karno mengajarkan bahwa pemimpin harus selalu kembali ke akar, ke rakyat, dan ke nilai-nilai Pancasila," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa PDIP tidak hanya menjadikan Bung Karno sebagai simbol, tetapi juga sebagai pedoman ideologis dalam menghadapi tantangan kontemporer.
Bagi pembaca Indonesia, ziarah ini mengingatkan kembali pada relevansi Pancasila sebagai dasar negara. Di era polarisasi politik dan disrupsi digital, pesan Bung Karno tentang persatuan dan gotong royong menjadi semakin krusial. Langkah Megawati juga dapat dibaca sebagai upaya memperkuat basis ideologis partai menjelang kontestasi politik mendatang, sekaligus menegaskan bahwa sejarah tidak boleh dilupakan.
Ke depan, tradisi ziarah ini kemungkinan akan terus berlanjut, terutama menjelang pemilu dan peringatan hari besar nasional. Pertanyaannya, mampukah semangat Bung Karno diwariskan tidak hanya melalui ritual, tetapi juga melalui kebijakan yang berpihak pada rakyat? Jawabannya ada pada konsistensi para pemimpin bangsa dalam mengamalkan nilai-nilai yang telah diperjuangkan sang proklamator.



