Kesepakatan Damai AS-Iran di Ambang Tanda Tangan, Teheran Minta Waktu
Baca dalam 60 detik
- Presiden Trump dan mediator Pakistan mengumumkan penandatanganan kesepakatan awal gencatan senjata AS-Iran pada Minggu, namun Iran membantah jadwal tersebut.
- Kesepakatan mencakup pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut AS, sementara negosiasi nuklir Iran akan menyusul dalam 60 hari.
- Protes domestik di Iran dan penolakan Israel menjadi batu sandungan, dengan ribuan korban jiwa serta gejolak harga energi global sebagai latar.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan mediator Pakistan, Perdana Menteri Shehbaz Sharif, pada Sabtu (13/6) menyatakan bahwa kesepakatan awal untuk mengakhiri perang di Timur Tengah akan ditandatangani pada Minggu, meskipun Iran dengan cepat membantah klaim tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa penandatanganan nota kesepahaman tidak akan terjadi esok hari, namun kemungkinan dalam beberapa hari ke depan belum bisa dikesampingkan.
Ketidaksepahaman mengenai waktu ini mencerminkan kerapuhan proses perdamaian yang telah berlangsung selama berminggu-minggu. Sejak gencatan senjata pada 8 April lalu, Trump berulang kali menyatakan kesepakatan sudah dekat, tetapi perundingan selalu mandek. Kini, momentum baru muncul meskipun terjadi bentrokan di Selat Hormuz—jalur vital pasokan minyak dunia yang diblokade Iran sejak awal perang.
Sharif menulis di platform X bahwa kedua belah pihak telah menyepakati kerangka kerja perdamaian dan Islamabad tengah mempersiapkan penandatanganan elektronik, yang akan diikuti oleh perundingan teknis pekan depan. Trump dalam unggahan media sosialnya menjamin bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka untuk semua pihak setelah kesepakatan ditandatangani. Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya menyebut kesepakatan itu sebagai “kesepakatan yang hebat dan sangat kuat.”
Namun, Iran memberikan sinyal yang berbeda. Baghaei memperingatkan agar tidak terburu-buru berkomentar mengenai waktu penandatanganan, seraya menyebut adanya “keraguan dari pihak lain.” Pernyataan ini muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Jumat mengatakan bahwa meskipun perubahan masih mungkin terjadi, kesepakatan sementara menunjukkan Iran muncul lebih kuat dari konflik. Ironisnya, beberapa jam setelah pernyataan Araghchi, pasukan AS menembak jatuh beberapa drone serang satu arah Iran yang menuju Selat Hormuz, yang oleh sumber anonim dikatakan mengancam lalu lintas komersial.
Draf kesepakatan yang diperoleh Reuters dari berbagai sumber menyebutkan bahwa AS akan mulai melepaskan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan dan menghapus sanksi ekspor minyak, sebagai imbalan Iran membuka Selat Hormuz. Negosiasi mengenai program nuklir Iran—yang menjadi alasan Trump memulai perang—akan dilakukan setelahnya dalam periode 60 hari. Seorang pejabat AS mengatakan kesepakatan pada akhirnya akan mengarah pada pembongkaran program nuklir Iran, termasuk penghancuran stok uranium yang diperkaya tinggi. Namun Araghchi menegaskan Iran tidak menerima pembongkaran tersebut dan ingin mempertahankan uranium dalam bentuk encer.
Israel menjadi pihak yang paling vokal menolak kesepakatan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya tidak akan menjadi bagian dari perjanjian tersebut, dan ia telah berselisih dengan Trump mengenai tuntutan AS agar Israel membatasi aksi militer di Lebanon. Araghchi berargumen bahwa kesepakatan akan mengakhiri perang di Lebanon, yang mengimplikasikan penarikan Israel dari wilayah pendudukan. Namun Menteri Pertahanan Israel menegaskan tidak akan mundur, dan seorang pejabat senior Israel mengatakan mereka tetap ingin mempertahankan kebebasan bertindak terhadap ancaman.
Di dalam negeri Iran, gelombang protes terus berlangsung. Lebih dari 100 malam aksi pro-pemerintah dihadiri oleh warga yang meneriakkan slogan-slogan menentang kesepakatan dengan AS. Di kota suci timur laut Mashhad, seorang penduduk melaporkan adanya teriakan “Matilah kompromi” yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Araghchi. Sementara itu, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara pada hari pertama perang akan dimakamkan pada 4-9 Juli di Tehran dan Mashhad.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki dampak langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan minyak. Selat Hormuz merupakan jalur transit bagi sebagian besar impor minyak Indonesia. Jika kesepakatan ini benar-benar terwujud, tekanan harga energi global bisa mereda, namun jika gagal, risiko lonjakan harga kembali mengintai. Pertanyaan besarnya: akankah Trump dan Iran mampu mengatasi perbedaan internal dan eksternal untuk mewujudkan perdamaian yang telah lama dinanti?



