Setengah Abad Tanpa Keadilan: Keluarga Bocah Inggris yang Hilang di Pantai Australia Kecam Polisi
Baca dalam 60 detik
- Seorang bocah perempuan asal Inggris, Cheryl Grimmer, hilang dari pantai di Australia pada 1970; keluarga menuding polisi gagal menangani kasus sejak awal.
- Sebuah penyelidikan parlemen di New South Wales kini menguak dugaan keterkaitan kasus-kasus hilang dengan pembunuh berantai Ivan Milat.
- Keluarga korban mendesak reformasi kepolisian agar penanganan kasus orang hilang tidak lagi dihambat oleh bias dan kelalaian.

Lebih dari lima dekade setelah seorang balita asal Inggris lenyap dari sebuah pantai di Australia, keluarganya akhirnya menyampaikan kekecewaan di hadapan penyelidikan parlemen. Mereka menuding kepolisian New South Wales (NSW) gagal menjalankan tugas sejak awal, sehingga kebenaran tak kunjung terungkap.
Ricki Nash, kakak laki-laki Cheryl Grimmer yang saat itu berusia tiga tahun, mengungkapkan bahwa jika polisi bertindak profesional pada 1971, pihak keluarga tak perlu menunggu setengah abad untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Cheryl menghilang dari Pantai Fairy Meadow di Wollongong pada Januari 1970, hanya dua tahun setelah keluarganya pindah dari Bristol, Inggris.
Seorang tersangka yang dikenal dengan nama samaran "Mercury" sempat didakwa atas penculikan dan pembunuhan Cheryl pada 2017. Namun, pengadilan runtuh setelah pengakuan remaja tersangka dinyatakan tidak sah. Jaksa kemudian menghentikan kasus tersebut, dan tersangka membantah semua tuduhan.
Dalam sidang perdana penyelidikan parlemen NSW yang menyoroti kasus pembunuhan tak terpecahkan dan orang hilang jangka panjang, Nash menegaskan bahwa Cheryl bukan sekadar berkas kasus. "Dia adalah gadis kecil yang luar biasa lucu," ujarnya.
Kevin Docherty, saudara kembar Kay Docherty yang menghilang pada 1979 di usia 15 tahun, juga memberikan kesaksian. Ia menyebut kedua orang tuanya meninggal lebih awal tanpa pernah mendapatkan jawaban. "Mereka benar-benar meninggal karena patah hati, terpaut delapan tahun," katanya. Kevin menambahkan bahwa polisi saat itu menganggap Kay sebagai pelarian, sehingga upaya pencarian sangat minim.
Kasus Kay Docherty menjadi salah satu yang diduga memiliki kaitan dengan Ivan Milat, pembunuh berantai yang dikenal sebagai "Pembunuh Backpacker". Antara 1989 dan 1992, Milat menculik dan membunuh setidaknya tujuh orang berusia 19–22 tahun, termasuk tiga warga Jerman, dua Inggris, dan dua Australia. Para korbannya dijemput saat menumpang di jalan raya antara Sydney dan Melbourne, lalu dibawa ke Hutan Belanglo.
Keluarga Keren Rowland juga menyerahkan keterangan kepada penyelidikan, meyakini bahwa Rowland—yang saat itu berusia 20 tahun dan hamil lima bulan—mungkin adalah korban pertama Milat. Rowland menghilang pada Februari 1971 di Canberra. Sepupunya, Dr Andrea Hughes, mengecam penanganan kasus selama lebih dari lima dekade sebagai "kebodohan, kepemimpinan buruk, parokialisme, dan arogansi".
Forensik kriminolog Dr Xanthe Weston memberikan bukti dari penelitiannya tentang Milat. Menurut Weston, Milat bersifat egosentris; ketika saudara perempuannya meninggal dan ia kehilangan kendali atas kehidupan pribadinya, ia mengompensasinya dengan membunuh.
Penyelidikan ini akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya profesionalisme aparat dalam menangani kasus orang hilang, terutama anak-anak. Di Indonesia, kasus serupa sering kali terhambat oleh stigma korban atau minimnya koordinasi antarlembaga. Reformasi kepolisian yang berorientasi pada korban dan transparansi investigasi bisa menjadi pelajaran berharga dari tragedi yang tak kunjung usai ini.
Pertanyaan yang tersisa: akankah penyelidikan ini akhirnya membuka tabir misteri yang telah membelenggu keluarga korban selama puluhan tahun, atau justru menjadi babak baru kekecewaan?



