Kontroversi Iklan Properti Israel: Mantan Istri Colin Firth Bongkar Sikap Gwyneth Paltrow
Baca dalam 60 detik
- Livia Giuggioli, mantan istri Colin Firth, membatalkan kunjungan Gwyneth Paltrow ke pertaniannya di Italia setelah aktris itu membintangi iklan properti mewah di Israel yang disebut dekat zona konflik.
- Giuggioli menuduh Paltrow 'nasty person' dan 'komplisit genosida' karena mempromosikan pengembangan real estat yang menurutnya berada di lokasi sensitif secara politik.
- Insiden ini memicu perdebatan baru tentang tanggung jawab selebritas dalam konflik geopolitik, dengan Giuggioli menyerukan Hollywood untuk memboikot mereka yang dianggap mendukung pelanggaran HAM.

Mantan istri aktor Colin Firth, Livia Giuggioli, secara terbuka mengkritik Gwyneth Paltrow setelah aktris pemenang Oscar itu tampil dalam iklan untuk perusahaan properti Israel. Giuggioli bahkan membatalkan rencana kunjungan Paltrow ke pertanian organiknya di Italia sebagai bentuk protes.
Dalam unggahan Instagram yang viral, Giuggioli menyebut iklan untuk kompleks hunian mewah 51 Park itu sebagai tindakan yang 'benar-benar tidak bisa diterima'. Proyek tersebut disebut berlokasi hanya beberapa mil dari daerah yang menurut laporan menjadi sasaran serangan militer Israel terhadap warga Palestina. "Saya baru saja membatalkan Gwyneth Paltrow. Dia seharusnya datang ke pertanian dalam beberapa minggu ke depan untuk tur pengalaman pertanian. Dan kami membatalkannya karena apa yang dia lakukan benar-benar tidak bisa diterima," tulis Giuggioli.
Giuggioli, yang mendirikan Green Fashion Awards, juga melontarkan kritik tajam terhadap industri hiburan Hollywood. Ia menyesalkan bagaimana selama bertahun-tahun para selebritas yang vokal menentang kekerasan justru dikucilkan. Kini, ia berharap tren sebaliknya terjadi: Hollywood harus mulai memboikot mereka yang dianggap mendukung pelanggaran hak asasi manusia. "Tidak ada lagi alasan untuk diam. Banyak yang diam, jadi jangan bicara soal 'diam berarti komplisit'," tegasnya.
Kritik Giuggioli tidak hanya berhenti pada pembatalan kunjungan. Ia menantang Paltrow dengan tiga pilihan: "Apakah kamu begitu terlepas dari kenyataan sehingga perlu dibatalkan, atau kamu benar-benar orang yang sangat jahat, atau kamu bodoh? Yang mana, Gwyneth Paltrow?" Pernyataan ini mencerminkan kemarahan yang meluas di kalangan aktivis yang mengecam keterlibatan selebritas dalam proyek yang dianggap kontroversial secara politik.
Bagi publik Indonesia, konflik Israel-Palestina selalu menjadi isu sensitif. Dukungan terhadap Palestina sudah lama menjadi sikap resmi pemerintah dan mayoritas masyarakat. Kasus ini mengingatkan bahwa tekanan publik terhadap figur publik yang dianggap mendukung Israel bisa sangat kuat. Di media sosial Indonesia, tagar boikot produk terkait Israel kerap menjadi tren. Sikap Giuggioli bisa menjadi preseden bagi aktivis lokal untuk menuntut pertanggungjawaban serupa dari selebritas Tanah Air yang bekerja sama dengan perusahaan Israel.
Paltrow sendiri belum memberikan tanggapan resmi. Namun, insiden ini membuka kembali diskusi tentang etika selebritas dalam menerima endorsement di tengah konflik geopolitik. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana tanggung jawab moral seorang publik figur dalam memilih proyek komersial? Ataukah kritik seperti ini hanya akan meredup seiring waktu, seperti kontroversi serupa sebelumnya?



