Anthony Joshua Bangkit dari Knockdown, Duel dengan Tyson Fury Kian Menggema
Baca dalam 60 detik
- Joshua menang KO ronde kedua setelah dua kali jatuh di ronde pertama, memicu lonjakan harapan pertarungan melawan Tyson Fury.
- Promotor Eddie Hearn menegaskan laga berebut mahkota Inggris itu hanya bisa digelar di London, bukan di luar negeri seperti isu yang beredar.
- Laga di Wembley diproyeksikan sebagai duel lintas generasi yang tak hanya ditunggu publik Inggris, tetapi juga penggemar tinju global termasuk Indonesia.

Anthony Joshua nyaris kehilangan segalanya dalam tiga menit pertama laga di Jeddah, Arab Saudi. Petinju asal Inggris itu dua kali tersungkur akibat pukulan keras Kristian Prenga pada ronde pembuka, namun bangkit dan mengakhiri perlawanan lawannya di ronde kedua melalui KO. Kemenangan dramatis itu—yang berlangsung Minggu dini hari WIB—langsung mengalihkan perhatian pada pertarungan yang sudah lama dinantikan: Joshua melawan Tyson Fury.
Pertarungan yang digelar di King Abdullah Sports City itu berjalan di luar dugaan. Joshua, yang diunggulkan menang mudah, mendapat sambutan telak dari Prenga berupa dua knockdown di ronde pertama. Namun, pada ronde kedua ia menghujani lawan dengan pukulan bertubi-tubi ke kepala hingga Prenga terkapar di tali ring bagian bawah dan wasit menghentikan pertarungan. “Momen seperti itu menunjukkan siapa diri Anda sebenarnya,” kata Joshua seusai laga. “Ada titik di mana Anda harus memilih antara lari atau bertarung. Saya memilih bertarung.”
Kemenangan ini kembali memanaskan rencana duel semua-Inggris yang telah lama digadang-gadang. Tyson Fury, yang juga meraih kemenangan pemanasan seminggu sebelumnya, disebut-sebut akan menjadi lawan Joshua selanjutnya. Meski kedua petinju sudah berusia kepala tiga—Joshua 36 tahun, Fury 37—antusiasme terhadap laga di Stadion Wembley, London, tak surut. Promotor Eddie Hearn dengan tegas membantah rumor bahwa pertarungan bisa dipindahkan ke luar Inggris. “Kecuali kontrak dinegosiasi ulang, duel ini hanya bisa di Inggris,” ujarnya. “Joshua sendiri bersikeras ingin bertarung di Inggris. Ini laga untuk publik Inggris.”
Bagi penggemar tinju di Indonesia, duel ini menjadi tontonan yang dinanti. Selama ini laga-laga besar kelas berat jarang menampilkan dua petinju papan atas asal negara yang sama dalam satu ring. Jika terwujud, pertarungan di Wembley diperkirakan akan memecahkan rekor tayangan global, termasuk di platform digital yang banyak diakses penikmat olahraga di Tanah Air. Selain itu, duel ini juga berarti bagi industri tinju Asia karena akan semakin membuka pasar ke Timur Tengah dan kawasan lain.
“Laga ini akan dikenang lintas generasi selamanya,” ujar Hearn. “Saya tidak perlu melakukan apa-apa lagi untuk mewujudkannya—kontrak sudah ditandatangani. Kita lihat apa yang terjadi dalam beberapa pekan ke depan.”
Namun, ada satu pertanyaan besar yang tersisa: mampukah kedua petinju yang sama-sama berada di senja karier ini menghadirkan pertarungan yang layak sebesar nama besar mereka? Atau justru faktor usia dan tekanan mental akan mengubah panggung Wembley menjadi sandiwara yang tak sesuai ekspektasi? Publik tinggal menunggu kepastian jadwal dan tanggal.



