El Nino Godzilla Ancam 40 Juta Warga Jatim, Status Siaga Kekeringan Ditetapkan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Jawa Timur menetapkan status siaga kekeringan di tujuh kabupaten sebagai respons terhadap prediksi El Nino Godzilla yang dapat memicu krisis air pada Agustus-September.
- Fenomena ini mengancam 40 juta jiwa dan 373.053 hektar lahan pertanian, dengan risiko gagal panen serta kebakaran hutan yang telah merugikan Rp38,79 triliun tahun lalu.
- Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menawarkan teknologi geofisika untuk memetakan akuifer dan menekan biaya pengeboran, namun diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk solusi jangka panjang.

Ancaman krisis air dan kegagalan panen membayangi 40 juta penduduk Jawa Timur setelah pemerintah provinsi menetapkan status siaga kekeringan di tujuh kabupaten menyusul peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai El Nino Godzilla yang diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus hingga September mendatang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, menerbitkan surat status siaga untuk Kabupaten Bangkalan, Lamongan, Pasuruan, Blitar, Lumajang, Bondowoso, dan Banyuwangi. Tak hanya krisis air bersih, kekeringan tahun ini diperkirakan lebih ekstrem dari biasanya. Data BMKG per Mei 2026 menunjukkan anomali muka air laut yang masuk kategori El Nino lemah menuju moderat, namun secara historis puncak dampak justru terjadi pada Juli-Oktober. “Beberapa wilayah mengalami penurunan curah hujan lebih dari 40%,” ujar Shanas Prayuda, Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi BMKG Juanda Surabaya.
Dampak sistemik kekeringan mulai terlihat. BPBD mencatat hingga April 2026 telah terjadi 138 bencana kategori sedang dan tinggi, menewaskan 14 orang dan melukai 42 lainnya. Bondowoso dan Situbondo menjadi daerah yang setiap tahun rawan kekeringan, sehingga distribusi air bersih menjadi langkah rutin. “Kami pernah mengebor di Bondowoso, sangat dalam, dan airnya bisa dimanfaatkan,” kata Gatot. Namun, penanganan darurat seperti pengiriman 10.000 liter air bersih dinilai tidak cukup. Untuk jangka panjang, ia mengimbau pemerintah daerah mengoptimalkan embung, sumur resapan, dan kolam penampung air hujan.
Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman lain yang tak kalah serius. Tahun lalu, kerugian akibat karhutla mencapai Rp38,79 triliun, merambah sektor pariwisata dan mata pencaharian warga yang bergantung pada hutan. “Jangan sampai ada setitik percikan api yang menimbulkan kebakaran lebih luas,” tegas Gatot. BMKG memprediksi musim kemarau berlangsung Juni hingga November, dengan puncak pada Agustus-September. Fenomena El Nino menyebabkan massa udara bergerak menjauh dari Indonesia, mengurangi pembentukan awan dan curah hujan secara signifikan.
Dalam menghadapi krisis ini, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menawarkan solusi teknologi geofisika untuk mengeksplorasi air tanah. M. Haris Miftakhul Fajar, Kepala Departemen Teknik Geofisika ITS, menjelaskan bahwa air tanah menjadi tulang punggung saat air permukaan mengering. Namun, eksploitasi berlebihan dapat memicu intrusi air laut dan penurunan permukaan tanah. “Di Wendit, Malang, ada mata air dengan debit 3.000 liter per detik yang tak pernah surut,” ujarnya. Teknologi Ground Penetrating Radar (GPR) milik ITS mampu memetakan akuifer hingga kedalaman 3.000 meter dengan akurasi 80%, menekan biaya pengeboran 30-50% dan mengurangi risiko kegagalan yang biasa mencapai 40-60% tanpa survei awal.
Wien Lestari, dosen Departemen Teknik Geofisika ITS, menambahkan bahwa air tanah menyuplai 40% kebutuhan air minum perkotaan dan 70% perdesaan di Indonesia. Saat El Nino, akuifer menjadi reservoir tersembunyi yang krusial. “Ke depan, pemetaan dan pengelolaan akuifer menggunakan teknologi geofisika harus dilakukan sejak dini, sebelum kekeringan meluas,” katanya. Sayangnya, prioritas cekungan air tanah (CAT) nasional—Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya Madura, dan Denpasar—masih menghadapi ancaman penipisan. Kolaborasi antara BMKG, BPBD, perguruan tinggi, dan swasta menjadi kunci, seperti yang telah dilakukan ITS dalam survei cepat pascabencana di Sumatera dan Aceh.
Pertanyaan besarnya, apakah langkah-langkah ini cukup untuk mengantisipasi El Nino Godzilla yang diprediksi lebih kuat dari fenomena serupa pada 1997 dan 2015? Dengan 817 ribu hektar lahan yang rentan terbakar dan hampir 40 juta jiwa yang menggantungkan hidup pada ketersediaan air, tekanan terhadap pemerintah daerah dan akademisi semakin besar. Tanpa aksi nyata yang terpadu, ancaman krisis pangan dan bencana ekologis bisa meluas lebih jauh dari yang diperkirakan.



