Jon Stewart Sebut Trump 'Man-Baby' Usai Walk Out Wawancara, Publik Kian Geram
Baca dalam 60 detik
- Jon Stewart mengkritik Donald Trump yang meninggalkan wawancara dengan NBC setelah dicecar pertanyaan faktual soal pemilu 2020.
- Stewart menyebut perilaku Trump sebagai bukti ketidakmampuan menerima kritik, bukan karena faktor eksternal seperti hujan.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang standar wawancara politik dan pengaruh figur publik terhadap opini masyarakat Indonesia.

Pembawa acara The Daily Show, Jon Stewart, melontarkan kritik tajam terhadap Donald Trump setelah mantan presiden Amerika Serikat itu meninggalkan ruang wawancara dengan NBC Meet The Press pekan lalu. Stewart menyebut Trump sebagai "man-baby yang sangat rapuh" yang tidak sanggup menghadapi pertanyaan kritis dari jurnalis Kristen Welker.
Dalam monolognya, Stewart menyoroti momen ketika Welker memeriksa fakta klaim Trump tentang kecurangan pemilu 2020. Trump yang tak terima langsung menghentikan wawancara dan meninggalkan studio. "Anda bisa melihat ini sebagai amukan seorang man-baby yang sangat rapuh, yang kulitnya setipis kertas tidak tahan keluar dari pelukan para penjilatnya," ujar Stewart, seperti dikutip dari tayangan The Daily Show.
Stewart mengecam upaya Welker yang kemudian menyalahkan hujan sebagai penyebab kekesalan Trump. Menurut Stewart, alasan sebenarnya adalah Trump tidak suka ditantang. "Dia tidak pergi karena hujan. Dia pergi karena dia dilawan, bukan karena terganggu. Sudah waktunya kita berhenti membuat alasan untuk pria itu demi menjaga akses ke omong kosongnya yang terus-menerus," tegas Stewart.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari sebelum Trump kembali menuai sorotan saat menghadiri pertandingan NBA New York Knicks di Madison Square Garden. Penonton melontarkan cemoohan keras ketika kamera menyorot Trump yang duduk di kotak VVIP. Ini merupakan kunjungan pertamanya ke arena tersebut dalam beberapa tahun terakhir, dan sambutan publik menunjukkan sentimen negatif yang masih kuat terhadapnya.
Bagi publik Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bagaimana figur publik di negara demokrasi besar kerap menghindari akuntabilitas. Perilaku Trump yang meninggalkan wawancara saat dicecar pertanyaan sulit mencerminkan pola yang juga bisa ditemui di panggung politik lokal. Ketika pemimpin atau tokoh publik menolak dikritik, hal itu melemahkan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi.
Stewart juga menyoroti ironi bahwa Trump justru mendapat kesempatan wawancara kedua setelah walk out. "Mungkin kita harus berhenti membuat alasan untuk pria itu hanya demi menjaga akses ke omong kosongnya," sindir Stewart. Kritik ini relevan di Indonesia, di mana media sering menghadapi dilema antara menjaga akses ke narasumber dan mempertahankan integritas jurnalistik.
Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah insiden ini akan mengubah cara media memperlakukan figur publik yang cenderung menghindari pertanyaan sulit. Atau justru sebaliknya, walk out ala Trump akan menjadi strategi yang ditiru oleh politisi di berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk menghindari akuntabilitas.



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7756286/original/007046100_1780565357-IMG_1792.jpeg)