Mesin KMP Aceh Hebat 2 Meledak di Pelabuhan Ulee Lheue, 15 Luka Bakar
Baca dalam 60 detik
- Ledakan pada sistem hidrolik pintu kedap di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 melukai 15 orang, mayoritas taruna pelayaran.
- Api berhasil dipadamkan dalam 3-4 menit oleh kru kapal, mencegah kerusakan lebih luas.
- ASDP berkoordinasi dengan otoritas untuk investigasi penyebab pasti dan pendampingan korban.

Ledakan di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 saat bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat siang, mengakibatkan 15 orang mengalami luka bakar. Peristiwa yang terjadi pukul 11.13 WIB itu mengejutkan para awak kapal dan penumpang yang tengah berada di dermaga.
General Manager ASDP Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan, mengungkapkan bahwa insiden diduga dipicu oleh letupan pada sistem hidrolik pintu kedap otomatis di ruang mesin. Saat kejadian, kapal baru saja menyelesaikan proses bongkar muat dari Pelabuhan Balohan, Sabang. Kru kapal bertindak cepat dan berhasil memadamkan api dalam waktu tiga hingga empat menit, sehingga kobaran api tidak merembet ke bagian lain kapal.
Korban luka bakar, yang sebagian besar merupakan taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati yang sedang menjalani praktik di atas kapal, segera dievakuasi ke RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh. Andri menyebut kondisi korban bervariasi dari luka ringan hingga berat, dan ASDP terus melakukan pendampingan serta koordinasi dengan rumah sakit untuk memantau perkembangan mereka.
Insiden ini menyoroti pentingnya pemeliharaan sistem keselamatan di kapal feri, terutama pada komponen hidrolik yang rentan terhadap tekanan tinggi. ASDP berkomitmen untuk melakukan investigasi menyeluruh bersama instansi terkait guna mengungkap penyebab pasti ledakan. Langkah ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Kecelakaan di pelabuhan dan kapal feri bukanlah hal baru di Indonesia, mengingat tingginya volume penyeberangan antar pulau. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi operator kapal untuk selalu mematuhi standar keselamatan dan melakukan inspeksi rutin pada sistem vital kapal. Para taruna yang menjadi korban, yang seharusnya belajar di atas kapal, kini harus menjalani perawatan intensif. Dukungan psikologis juga diperlukan mengingat trauma yang mungkin mereka alami.
Ke depan, ASDP perlu memastikan bahwa seluruh armadanya menjalani audit keselamatan secara berkala. Pertanyaan yang muncul: apakah insiden ini akan mendorong perubahan regulasi keselamatan pelayaran nasional? Ataukah akan menjadi catatan kelam yang terlupakan begitu korban pulih? Masyarakat menanti transparansi hasil investigasi dan langkah konkret untuk meningkatkan keselamatan penyeberangan.