Nesta Sesali Sepak Bola Italia Kehilangan Jati Diri: 'Kami Ternak Ayam Potong'
Baca dalam 60 detik
- Legenda Italia Alessandro Nesta menilai Azzurri kehilangan identitas karena meniru gaya negara lain dan mengabaikan pembinaan pemain muda.
- Menurut Nesta, klub Serie A enggan berinvestasi jangka panjang pada akademi karena takut pemain mudanya dibajak tanpa perlindungan hukum.
- Kegagalan lolos Piala Dunia tiga kali beruntun menjadi alarm bagi federasi untuk mereformasi sistem pembinaan dan infrastruktur.

Legenda timnas Italia, Alessandro Nesta, melontarkan kritik pedas terhadap kondisi sepak bola Negeri Pizza yang dinilainya telah kehilangan jati diri. Dalam sebuah diskusi di New York bersama mantan bintang lainnya seperti Christian Vieri, Nesta menyebut bahwa sepak bola Italia kini hanya menjadi peniru tanpa karakter, dan klub-klub kehilangan minat untuk mengembangkan pemain muda.
Kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun menjadi bukti nyata kemerosotan. Menurut Nesta, generasi emas seperti dirinya yang memenangi Piala Dunia 2006 tidak tergantikan. "Setelah kami, terjadi kekosongan. Tidak ada kesuksesan selain gelar Euro," ujarnya kepada Gazzetta dello Sport. Ia menambahkan bahwa saat ini tidak ada lagi pemain ikonik seperti era mereka, dan hasil buruk tentu memengaruhi penilaian publik.
Nesta mengidentifikasi beberapa faktor penyebab runtuhnya kejayaan Italia. "Kami kehilangan identitas Italia dan mulai meniru negara lain, sementara klub kehilangan minat pada pemain muda," katanya. Ia juga menyoroti minimnya perlindungan bagi klub yang telah berinvestasi di akademi. "Klub tidak dilindungi; mereka bisa berinvestasi bertahun-tahun pada pemain muda, lalu pemain itu diambil begitu saja. Jika benar-benar ingin fokus pada akademi, diperlukan undang-undang perlindungan baru."
Lebih jauh, Nesta mengkritik pendekatan taktik yang berlebihan di usia dini. "Sekarang terlalu banyak taktik; bahkan anak usia 12-13 tahun sudah dibicarakan sistem dan formasi, padahal mereka harus mengembangkan bakat dan dribbling," keluhnya. Ia menggunakan metafora pedas: "Maaf, kami seperti beternak ayam potong—semua sama, pandai mengoper, tapi tanpa kreativitas."
Popularitas Serie A yang meredup juga tak lepas dari sorotan. Nesta menilai semuanya saling terkait: timnas yang tidak berprestasi membuat minat menurun, dan pemain top lebih memilih liga lain. "Dulu mimpi semua pemain adalah bermain di Serie A. Kini kami belum mampu membangun liga yang berdiri di atas kaki sendiri. Kami seperti anak manja dari keluarga kaya seperti Berlusconi, Moratti, Sensi. Sejak itu kami tidak berevolusi, terutama dalam hal stadion dan infrastruktur," pungkasnya.
Bagi Indonesia, kritik Nesta relevan sebagai pengingat pentingnya membangun ekosistem sepak bola dari akar rumput. Tanpa perlindungan hukum bagi klub akademi dan tanpa keberanian mempertahankan identitas permainan, regenerasi pemain berkualitas akan sulit terwujud. Pertanyaannya, akankah federasi sepak bola Italia—dan juga Indonesia—berani melakukan reformasi struktural sebelum terlambat?



