Ibrahimovic Sindir Suporter Amerika: Kalah Malah Makan Taco, Beda dengan Eropa yang Nunggu di Depan Rumah
Baca dalam 60 detik
- Zlatan Ibrahimovic mengkritik budaya suporter Amerika yang dianggapnya terlalu lunak, dengan contoh fans LA Galaxy tetap santai meski tim kalah.
- Mantan striker PSG itu membandingkan dengan Eropa, di mana kekalahan bisa berujung pada penggemar yang menunggu di depan rumah pemain.
- Ibrahimovic akan menjadi analis Fox Sports untuk Piala Dunia 2026 dan berjanji memberikan gaya 'Zlatan' yang tanpa skrip.

Zlatan Ibrahimovic kembali melontarkan pernyataan kontroversial, kali ini menyoroti perbedaan budaya suporter sepak bola di Amerika Serikat dan Eropa. Dalam wawancara di acara Jimmy Kimmel Live, pria yang kini menjabat sebagai penasihat senior AC Milan itu menyebut fans di Amerika terlalu 'lunak' dibandingkan dengan penggemar di benua asalnya.
Ibrahimovic, yang pernah membela LA Galaxy pada 2018β2019, menceritakan pengalamannya saat timnya kalah. "Saya keluar dari stadion dan melihat mereka tertawa, makan taco, menunggu di dekat mobil. Lembek," ujarnya. "Di Eropa, kalau kalah, fans tidak menunggu di mobil, mereka menunggu di depan rumah Anda. Dan pasti tidak sambil bawa taco."
Perbandingan itu bukan sekadar guyonan. Ibrahimovic mengingat insiden saat bermain untuk Paris Saint-Germain melawan Marseille. "Mereka melempar pisau ke lapangan. Saya bilang ke rekan setim, untuk gol berikutnya kita rayakan di tengah lapangan. Saya ingin keluar hidup-hidup," katanya. Kisah ini menggambarkan betapa fanatiknya suporter Eropa, yang terkadang berujung pada tindakan ekstrem.
Ibrahimovic juga berbicara tentang perannya sebagai analis untuk Fox Sports selama Piala Dunia 2026. Dengan percaya diri, ia menyatakan tidak akan menggunakan skrip seperti rekan-rekannya. "Mereka ingin Zlatan, saya akan berikan Zlatan. Kalau analis lain bicara, penonton Amerika pasti tertidur. Saya di sini untuk membangunkan mereka," ujarnya. Gaya blak-blakan ini diharapkan bisa menarik minat penonton yang mungkin belum akrab dengan sepak bola.
Bagi Indonesia, perbedaan budaya suporter ini relevan mengingat antusiasme tinggi masyarakat terhadap sepak bola. Suporter di Indonesia dikenal fanatik, mirip dengan Eropa, dengan rivalitas ketat antar klub. Namun, insiden kekerasan seperti lemparan benda ke lapangan juga pernah terjadi, mengingatkan pada pentingnya manajemen keamanan. Perbandingan Ibrahimovic bisa menjadi refleksi bagi pengelola liga dan suporter di Tanah Air untuk menjaga sportivitas.
Ditanya soal perbandingan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, Ibrahimovic dengan khas menjawab, "Saya jawab Zlatan." Jawaban itu menegaskan kepercayaan dirinya yang tak pernah pudar, sekaligus menghibur penonton. Dengan karisma seperti ini, tak heran jika Fox Sports merekrutnya untuk menambah daya tarik siaran Piala Dunia 2026.
Ke depan, apakah gaya analisis Ibrahimovic akan sukses di Amerika yang terbiasa dengan pakar olahraga yang lebih formal? Atau justru akan menjadi angin segar yang membuat sepak bola semakin populer di Negeri Paman Sam? Yang jelas, Zlatan selalu punya cara untuk membuat orang terkejut.



