Xi Kunjungi Pyongyang: Cengkeraman Beijing di Semenanjung Korea Kian Dipertaruhkan
Baca dalam 60 detik
- Presiden China Xi Jinping melakukan kunjungan langka ke Pyongyang untuk memperkuat aliansi dengan Korea Utara di tengah rivalitas dengan AS dan Rusia.
- Kunjungan ini menjadi panggung bagi Xi untuk memulihkan pengaruh eksklusif China yang sempat tergerus oleh kerja sama militer Korut-Rusia.
- Bagi Indonesia, dinamika ini berpotensi menggeser keseimbangan geopolitik Asia Timur dan berdampak pada stabilitas kawasan yang menjadi mitra dagang utama.

Presiden China Xi Jinping tiba di Pyongyang, Senin (9/6), dalam kunjungan kenegaraan yang pertama dalam tujuh tahun terakhir. Langkah ini dinilai sebagai upaya Beijing untuk mengembalikan pengaruh dominannya atas Korea Utara di tengah persaingan ketat dengan Amerika Serikat dan merapatnya Pyongyang ke Moskow.
Kedatangan Xi disambut meriah oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong Un beserta istri di bandara internasional Pyongyang. Ribuan warga, termasuk anak-anak yang melambaikan balon, memadati alun-alun utama kota. Spanduk merah-kuning bergambar kedua pemimpin dan slogan persahabatan menghiasi gedung-gedung di sekitar lokasi. Suasana itu mencerminkan simbolisme yang ingin ditonjolkan: aliansi yang tak tergoyahkan.
Dalam pertemuan puncak yang berlangsung setelahnya, Xi menyatakan kesiapan China memperluas kerja sama di bidang perdagangan, pertanian, konstruksi, dan teknologi, sebagaimana dilaporkan oleh stasiun televisi pemerintah CCTV. Kim, menurut laporan yang sama, menyebut kunjungan Xi sebagai bukti "tak terputusnya" hubungan kedua negara dan menegaskan bahwa memperkuat persahabatan era baru adalah "pilihan strategis yang tak berubah" bagi Korea Utara.
Kunjungan ini terjadi setelah Xi menggelar pertemuan beruntun dengan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing bulan lalu. Xi dijadwalkan bertemu Trump lagi dalam kunjungan ke AS pada September mendatang. Para pengamat menilai, dengan menunjukkan pengaruhnya atas Korea Utara, Xi ingin memperkuat posisi tawar dalam negosiasi dengan Washington. "China ingin menunjukkan kepemimpinan di Asia Timur Laut di era kompetisi strategis dengan AS," ujar Kwak Gil Sup, kepala One Korea Center, sebuah situs yang fokus pada urusan Korea Utara.
Namun, hubungan China-Korea Utara belakangan diuji oleh kerja sama militer Pyongyang dengan Moskow. Korea Utara dilaporkan memasok pasukan dan senjata untuk perang Rusia di Ukraina, dan sebagai imbalannya menerima bantuan ekonomi serta militer. Hal ini membuat Beijing harus bekerja ekstra untuk mengembalikan posisinya sebagai mitra utama. "Korea Utara tidak bisa hanya bergantung pada Rusia. Mereka perlu menyelaraskan diri dengan China," tambah Kwak.
Di sisi lain, Kim Jong Un membutuhkan dukungan Xi untuk mewujudkan ambisinya sebagai negara nuklir yang diakui secara internasional. Analis memperkirakan Xi akan menawarkan paket bantuan ekonomi seperti pengiriman beras dan pupuk, serta pembukaan kembali tur kelompok China ke Korea Utara. Yang lebih krusial, Xi kemungkinan tidak akan menekan Kim soal denuklirisasi, melainkan hanya berbicara samar tentang perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea. "Pejabat China mengambil posisi tidak berbicara terbuka tentang denuklirisasi, sementara tetap menjadikannya tujuan jangka panjang. Kim tampaknya ingin Xi menerima Korea Utara sebagai tetangga nuklir," kata Leif-Eric Easley, profesor di Universitas Ewha Womans, Seoul.
Sikap China yang lunak itu kontras dengan pernyataan Gedung Putih setelah pertemuan Trump-Xi bulan lalu, yang menyebut kedua pemimpin sepakat pada tujuan bersama denuklirisasi Korea Utara. China hanya mengatakan kedua pemimpin membahas isu nuklir di Semenanjung Korea. Adik Kim Jong Un, Kim Yo Jong, bahkan menolak desakan AS untuk denuklirisasi sebagai "mimpi anakronistis".
Pekan lalu, Kim meresmikan pabrik baru produksi bahan nuklir dan berjanji memperkuat kekuatan nuklir secara eksponensial. Ia juga menyaksikan uji coba kapal perusak baru dan menyerukan percepatan pembangunan angkatan laut bertenaga nuklir. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung memperkirakan Korea Utara memproduksi bahan nuklir untuk 10-20 bom per tahun dan hampir menyempurnakan teknologi rudal balistik antarbenua (ICBM).
Bagi Indonesia, dinamika di Semenanjung Korea memiliki implikasi langsung. Sebagai mitra dagang utama di kawasan, stabilitas Asia Timur sangat memengaruhi arus investasi dan perdagangan Indonesia. Jika ketegangan meningkat akibat ambisi nuklir Korea Utara, rantai pasok regional bisa terganggu. Selain itu, Indonesia yang selama ini mendukung denuklirisasi melalui forum ASEAN, harus mencermati apakah poros baru Beijing-Pyongyang-Moskow akan melemahkan tekanan internasional terhadap program nuklir Korea Utara.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah kunjungan Xi benar-benar memulihkan pengaruh China, atau justru memperkuat isolasi Korea Utara di tengah kecurigaan Barat? Jawabannya akan menentukan peta kekuatan di Asia Timur dalam beberapa tahun ke depan.


