Kebakaran Kapal Tanker di Oman: 24 ABK India Dievakuasi, Konflik Global Ikut Berperan
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Oman mengevakuasi 24 pelaut India dari kapal tanker MT Marivex yang terbakar di lepas pantai Oman, tanpa penyebab pasti kebakaran.
- Insiden terjadi di tengah ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, yang sejak perang Iran dengan AS dan Israel pada Februari lalu telah mengganggu jalur energi global.
- India mengapresiasi respons cepat Oman, sementara Kementerian Luar Negeri India mengecam kekerasan yang berlangsung lebih dari 100 hari dan berdampak pada ekonomi dunia.
Dua puluh empat awak kapal berkewarganegaraan India berhasil dievakuasi oleh otoritas Oman setelah kapal tanker MT Marivex yang mereka tumpangi terbakar hebat di perairan Oman, Senin (8/6). Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan jalur pelayaran global di tengah konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 13.30 waktu setempat atau 16.30 WIB. Kapal berbendera Palau itu diketahui membawa 24 warga negara India yang seluruhnya dalam kondisi selamat. Kedutaan Besar India di Oman melalui pernyataan di media sosial menyampaikan rasa terima kasih atas respons cepat Omani yang melakukan evakuasi melalui helikopter. Foto-foto yang beredar di media sosial memperlihatkan awak kapal diangkat menggunakan tali dari atas kapal yang diselimuti asap hitam tebal.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas India belum mengungkap penyebab pasti kebakaran maupun tingkat kerusakan kapal. Data dari MarineTraffic menunjukkan posisi kapal berada di lepas pantai Oman, selatan ibu kota Muskat.
Insiden ini tidak bisa dilepaskan dari situasi geopolitik yang memanas di kawasan Teluk. Sejak pecahnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu, Iran secara efektif memblokade Selat Hormuz—jalur air yang dalam masa damai membawa sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Blokade ini telah mengganggu rantai pasok energi global dan memicu lonjakan harga komoditas.
Kementerian Luar Negeri India, dalam pernyataan terpisah pada hari yang sama, mengecam kekerasan yang terus berlanjut. "Konflik ini telah berlangsung lebih dari 100 hari dan telah menyebabkan penderitaan kemanusiaan yang luar biasa. Dampaknya terhadap ekonomi global dan pasokan energi sangat melemahkan," demikian bunyi pernyataan tersebut. India, sebagai salah satu importir minyak terbesar dunia, sangat rentan terhadap gangguan di Selat Hormuz.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya keamanan jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah. Indonesia juga mengimpor minyak mentah dan LNG dari kawasan Teluk, sehingga setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi mempengaruhi harga energi domestik dan stabilitas pasokan. Selain itu, keselamatan awak kapal asal Indonesia yang bekerja di kapal-kapal asing juga perlu menjadi perhatian serius.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah konflik Iran-AS-Israel akan segera mereda atau justru semakin memperluas dampaknya terhadap keamanan maritim global. Belajar dari insiden ini, koordinasi internasional dalam evakuasi dan respons darurat di laut menjadi semakin krusial di tengah ketidakpastian geopolitik.



