Tuna Rungu Sejak Lahir, Sabrina Wong Taklukan Panggung Teater Musikal
Baca dalam 60 detik
- Sabrina Wong, lulusan LASALLE College of the Arts, berhasil meraih gelar sarjana teater meski mengalami gangguan pendengaran sedang hingga berat.
- Keterlambatan memakai alat bantu dengar hingga usia lima tahun membuatnya harus berjuang ekstra dalam bicara dan akademik, namun ia menemukan kekuatan dalam seni peran.
- Kisah Wong menjadi inspirasi bagi penyandang disabilitas di Indonesia, di mana akses terapi wicara dan alat bantu dengar masih menjadi tantangan.

Seorang perempuan muda kelahiran Shanghai berhasil menembus batas keterbatasan fisik: meski terlahir dengan gangguan pendengaran sedang hingga berat di kedua telinga, Sabrina Wong (21) baru saja menyelesaikan studi sarjana teater musikal di LASALLE College of the Arts, Singapura, dan telah tampil di sejumlah produksi kampus.
Wong didiagnosis tunarungu sejak bayi melalui skrining pendengaran rutin, namun ia baru konsisten menggunakan alat bantu dengar ketika berusia lima atau enam tahun. Dokter sempat menyarankan orangtuanya untuk tidak memakaikan alat tersebut karena dianggap tidak perlu. Akibatnya, ia kehilangan masa emas perkembangan bicara dan bahasa, yang kemudian memengaruhi kemampuan akademik dan sosialnya.
"Saya menghabiskan masa taman kanak-kanak tanpa alat bantu dengar. Itu membentuk kepribadian pemalu dan introvert," kata Wong dalam wawancara dengan CNA. "Karena tidak bisa mendengar percakapan, saya hidup di dunia sendiri."
Ketiadaan intervensi dini membuat Wong mengalami cadel (lisp) dan kesulitan mengucapkan bunyi tertentu. Ia membutuhkan waktu dua hingga tiga kali lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan rumah dibanding teman-temannya. Namun, kecintaannya pada seni pertunjukan telah tumbuh sejak kecil, terutama setelah menonton penyanyi di televisi. Ia mulai belajar guzheng (alat musik petik tradisional Tiongkok) dan kursus menyanyi, lalu bergabung dengan program teater musikal remaja di usia 11 tahun.
"Berdiri di atas panggung, melakukan apa yang telah dilatih berbulan-bulanโsulit dijelaskan, tapi itu adalah kebahagiaan tertinggi," ujar Wong. Meski demikian, ia menyadari bahwa untuk mengejar mimpi secara profesional, ia harus berlatih jauh lebih keras. Pada 2023, ia memutuskan meninggalkan Tiongkok dan merantau ke Singapura sendirian di usia 18 tahun.
Proses adaptasi tidak mudah. Ia harus mengelola kehidupan sehari-hari di tempat sewaan sambil menjalani jadwal padat kelas, latihan vokal, dan koreografi. Wong juga menjalani terapi wicara dan fisioterapi vokal untuk mengatasi cadel. Terapi ini membantunya memahami posisi lidah dan bentuk mulut saat bernyanyi. "Banyak guru bilang bernyanyilah seperti bicara. Itu tidak bekerja untukku karena aku bicara dengan cadel. Kamu tidak boleh bernyanyi dengan cadel," jelasnya.
Menurut Wong, seni pertunjukan memberinya ruang untuk menjadi karakter lainโbukan dirinya yang pemalu. "Saat tampil, saya bukan Sabrina lagi. Jika karakternya ekstrover, saya jadi ekstrover," katanya. Kelulusannya dari LASALLE menjadi puncak dari tahun-tahun perjuangan. Ia berencana mengambil tahun jeda sebelum melanjutkan studi pascasarjana seni pertunjukan di Amerika Serikat.
Kisah Wong mengingatkan pada kondisi penyandang disabilitas di Indonesia. Menurut data Kementerian Sosial, pada 2023 terdapat lebih dari 200 ribu penyandang disabilitas pendengaran di Indonesia. Namun, akses terhadap alat bantu dengar dan terapi wicara masih terbatas, terutama di daerah terpencil. Biaya alat bantu dengar yang mahal dan kurangnya tenaga ahli menjadi kendala. Kisah Wong bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia dengan disabilitas untuk mengejar mimpi di bidang seni, yang seringkali dianggap tidak mungkin.
"Evaluasi keadaanmu. Jika merasa ada kesempatan, jangan berkecil hati. Kejarlah karena kamu tidak pernah tahu apa yang bisa kamu capai." โ Sabrina Wong
Ke depan, dengan makin banyaknya platform yang mendukung inklusivitas, mungkin akan lahir lebih banyak seniman disabilitas yang mampu bersinar. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menyediakan ekosistem yang mendukung mereka?



