Trump Tuding Iran Langgar Gencatan Senjata, Ancaman Serangan Lebih Besar Mengemuka
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menuduh Iran berulang kali melanggar gencatan senjata April dan mengancam akan meningkatkan serangan jika tidak ada kesepakatan.
- AS meluncurkan 49 rudal Tomahawk dan serangan udara, dengan target terdekat hanya 65 km dari Teheran, memicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
- Penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan berdampak pada harga energi di Indonesia, meskipun CENTCOM membantah klaim tersebut.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Teheran melanggar gencatan senjata yang disepakati pada April lalu. Dalam pernyataan yang dikutip oleh koresponden Fox News, Trey Yingst, Trump menyebut gencatan senjata tersebut sebagai "yang paling sering dilanggar dalam sejarah dunia" dan mengancam akan melancarkan serangan yang lebih dahsyat jika Iran tidak menandatangani kerangka kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Trump mengklaim bahwa militer AS telah menembakkan 49 rudal jelajah Tomahawk dan menggunakan jet tempur dalam serangan terbaru. Target terdekat dari operasi tersebut dilaporkan hanya berjarak sekitar 65 kilometer di luar ibu kota Iran, Teheran. Serangan ini merupakan eskalasi signifikan setelah beberapa bulan relatif tenang pasca-gencatan senjata. Pihak militer AS menyatakan bahwa serangan dilakukan atas perintah langsung Trump, sementara media pemerintah Iran melaporkan ledakan di sejumlah kota pelabuhan di pesisir selatan negara itu.
Sebagai respons, Iran mengumumkan penutupan total Selat Hormuz—jalur air strategis yang menjadi pintu keluar sekitar 20% pasokan minyak dunia. Langkah ini langsung memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak global. Namun, Komando Pusat AS (CENTCOM) dengan tegas membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa kapal-kapal komersial masih dapat melintasi selat tersebut tanpa hambatan. Pernyataan kontradiktif ini menambah ketidakpastian di pasar energi.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik di Timur Tengah ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi gejolak harga energi yang dapat membebani anggaran subsidi dan mempengaruhi inflasi. Selain itu, ketegangan ini juga dapat mempengaruhi stabilitas kawasan dan arus perdagangan internasional yang melibatkan Indonesia.
Menurut analis geopolitik, ancaman Trump untuk "mengebom habis-habisan" jika Iran tidak menandatangani kesepakatan menunjukkan bahwa AS menginginkan penyelesaian cepat melalui tekanan militer maksimal. Namun, sikap keras Iran yang merespons dengan menutup Selat Hormuz mengindikasikan bahwa Teheran tidak akan mudah menyerah. Pertanyaannya kini, apakah kedua belah pihak dapat menghindari konflik terbuka yang lebih luas, atau justru dunia akan menyaksikan perang besar di kawasan penghasil minyak utama?



