Iran Mendikte Israel: Tatanan Baru Timur Tengah yang Mengubah Peta Kekuatan
Baca dalam 60 detik
- Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel sebagai respons atas serangan di Beirut, menandai pergeseran strategi untuk membatasi operasi militer Israel di Lebanon.
- Teheran berhasil membangun tatanan regional baru yang memungkinkannya mengendalikan Selat Hormuz dan menekan lawan tanpa ancaman perubahan rezim yang realistis.
- Kesenjangan antara Israel dan AS semakin terlihat, dengan Trump mendorong Netanyahu untuk menahan diri, situasi yang sebelumnya tak terbayangkan.

Iran untuk pertama kalinya dalam dua bulan meluncurkan rentetan rudal ke Israel pada 7 Juni, dipicu oleh serangan Israel terhadap target Hizbullah di Beirut. Langkah ini bukan sekadar balasan, melainkan upaya Teheran untuk mendikte batas operasi militer Israel di Lebanonโsebuah perubahan aturan main yang sebelumnya tak terpikirkan.
Serangan balasan Israel segera menyusul, menargetkan wilayah barat dan tengah Iran, mengabaikan imbauan mantan Presiden AS Donald Trump untuk menahan diri. Iran kemudian melancarkan serangan baru sebelum mengumumkan penghentian, dengan peringatan akan respons yang lebih keras jika Israel terus menyerang Lebanon. Pertarungan ini, menurut analis geopolitik, menandai lahirnya tatanan regional baru yang dipaksakan Iran.
Ciri pertama tatanan baru ini adalah Iran yang kini menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Israel dan AS. Enam bulan lalu, Israel bebas beroperasi di Lebanon tanpa campur tangan Iran. Kini, Teheran merasa cukup kuat untuk membatasi gerak Israel di perbatasannya sendiri. Prinsip serupa juga terlihat di Selat Hormuz, di mana Iran telah membangun cengkeraman sejak perang dimulai pada akhir Februari. Iran memberi pesan jelas: patuhi aturan kami, atau ekonomi global akan tercekik. Sejauh ini, AS lebih memilih menerima realitas ini daripada bertempur untuk mengubahnya.
Ciri kedua adalah perluasan cara Iran untuk menghukum musuh. Iran telah membuktikan mampu menghujani Israel dengan rudal, menyerang infrastruktur di negara-negara Teluk, menewaskan tentara AS, dan mencekik pasokan minyak globalโtanpa menghadapi upaya perubahan rezim yang realistis. Iran masih memiliki banyak kartu, termasuk memperluas target energi di Teluk atau mengaktifkan Houthi untuk memblokir pelayaran di Laut Merah. Houthi baru saja mengumumkan larangan pengiriman Israel melalui Laut Merah. AS berkali-kali mengancam akan menyerang infrastruktur sipil Iran atau menginvasi terminal ekspor Kharg, tetapi selalu mundur karena takut akan konsekuensinya.
Ciri ketiga adalah retaknya koordinasi antara Israel dan AS. Trump, yang sebelumnya mendukung Israel, kini justru mendesak Netanyahu untuk tidak membalas. "Saya akan menelepon Bibi sekarang dan menyuruhnya jangan membalas," kata Trump setelah serangan rudal Iran. Netanyahu berhasil memposisikan Israel sehingga presiden dari partai Republik memintanya menahan diri dari serangan rudal yang menargetkan warga sipil Israel. Situasi ini nyaris tak terbayangkan enam bulan lalu. Meski Trump belum mengancam akan menahan pertahanan rudal untuk Israel, tanpa bantuan AS, Israel akan kesulitan melanjutkan konflik. Berburu peluncur rudal saja akan menjadi tantangan besar, apalagi jika front utara melawan Hizbullah tetap aktif.
Ciri keempat adalah mustahilnya perdamaian dalam waktu dekat. Netanyahu tidak bisa menerima veto Iran atas tindakan Israel di Lebanon, dan tidak bisa membiarkan serangan Iran tanpa balasan tanpa merusak daya gentar Israel. Trump tidak bisa mencapai kesepakatan damai dengan Iran selama Israel membom Lebanon. Iran punya insentif untuk terus mendorong dan menimbulkan kerugian lebih besar, karena dalam tatanan baru ini, mereka bisa melakukannya tanpa konsekuensi berarti. Perang pilihan yang membawa bencana ini, menurut analis, akan tercatat sebagai salah satu langkah paling keliru dalam sejarah AS.
Bagi Indonesia, eskalasi ini mengancam stabilitas pasokan energi global dan harga minyak, yang berpotensi membebani anggaran subsidi BBM. Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz dan Laut Merah dapat mengganggu jalur perdagangan Indonesia-Timur Tengah. Pertanyaannya, sejauh mana Indonesia siap menghadapi dampak dari tatanan baru yang dipaksakan Iran ini?



