G7 Summit: Jepang Bawa Tiga Prinsip Energi di Tengah Krisis Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi akan mengusulkan tiga prinsip energi global pada KTT G7 di Prancis pekan depan, merespons ketegangan Timur Tengah yang mengancam pasokan minyak.
- Prinsip tersebut mencakup perdagangan energi bebas, peningkatan cadangan minyak strategis, dan kerja sama negara produsen-konsumen, dengan tujuan memperkuat ketahanan energi kolektif.
- Inisiatif ini juga dirancang untuk memperluas dukungan bagi kerangka pembiayaan Asia yang dipimpin Jepang, yang relevan bagi negara importir energi seperti Indonesia.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dijadwalkan mengajukan tiga prinsip penguatan keamanan energi global dalam pertemuan puncak Kelompok Tujuh (G7) di Prancis pekan depan. Langkah ini muncul di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia, terutama setelah Iran menutup total Selat Hormuz dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sasaran di Iran.
Menurut sumber pemerintah Jepang, tiga prinsip yang akan dibawa Takaichi meliputi: pertama, menjaga perdagangan energi yang bebas dan transparan; kedua, mendukung peningkatan cadangan minyak strategis; dan ketiga, mendorong kerja sama yang lebih erat antara negara penghasil dan pengonsumsi minyak. Jepang berharap inisiatif ini dapat membangun pemahaman bersama di antara para pemimpin G7 tentang urgensi melindungi pasokan energi di tengah meningkatnya risiko geopolitik.
Bagi Jepang, negara yang miskin sumber daya alam dan sangat bergantung pada impor minyak serta gas alam, prinsip perdagangan bebas menjadi krusial. Tokyo akan mendorong perlindungan jalur laut utama, menentang pembatasan ekspor yang tidak transparan dan biaya transit di selat internasional, serta mempromosikan aturan yang menjaga kelancaran pasokan energi global. Prinsip kedua menyasar pemenuhan persyaratan Badan Energi Internasional (IEA) yang mewajibkan negara anggota memiliki cadangan minyak darurat setara 90 hari impor bersih.
Selain itu, Jepang juga mendorong pengembangan rute pengiriman alternatif untuk mengantisipasi blokade di titik-titik rawan seperti Selat Hormuz. Langkah ini menjadi semakin mendesak setelah militer AS mengumumkan serangan baru terhadap sasaran Iran, dan Iran membalas dengan menutup total Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Situasi ini langsung memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran resesi global.
Dalam konteks Indonesia, inisiatif Jepang patut dicermati. Sebagai negara yang masih mengimpor minyak mentah dalam jumlah signifikan, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi mendongkrak harga BBM di dalam negeri dan memperburuk defisit neraca perdagangan. Pemerintah Indonesia selama ini mengandalkan cadangan minyak strategis yang masih jauh dari standar IEA. Kerja sama dengan Jepang melalui skema pembiayaan Asia bisa menjadi peluang untuk mempercepat pembangunan infrastruktur penyimpanan dan diversifikasi sumber pasokan.
Para analis menilai bahwa usulan Jepang di G7 merupakan sinyal bahwa negara-negara maju mulai serius membangun arsitektur keamanan energi yang lebih tangguh. Namun, efektivitasnya akan sangat bergantung pada komitmen politik negara-negara anggota, terutama dalam menghadapi tekanan dari negara produsen besar. Pertanyaan yang mengemuka: mampukah G7 menerjemahkan prinsip-prinsip ini menjadi aksi konkret, atau hanya akan menjadi deklarasi tanpa gigi?



