Pipeline IPO BEI Menyusut Jadi 12 Perusahaan, Target 50 Emiten Terancam?
Baca dalam 60 detik
- Bursa Efek Indonesia mencatat hanya satu perusahaan yang berhasil melantai di bursa sepanjang 2026, dengan dana terkumpul Rp500 miliar.
- Jumlah calon emiten dalam antrean IPO turun dari 15 menjadi 12 perusahaan, terutama karena revisi laporan keuangan dan kelengkapan dokumen.
- Direktur Utama BEI menegaskan pihaknya tetap optimistis target 50 emiten baru tercapai, meski keputusan IPO bergantung pada kondisi pasar dan penilaian emiten.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah perusahaan yang mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana (IPO) menyusut menjadi 12 perusahaan, turun dari sebelumnya 15 perusahaan. Penurunan ini terjadi di tengah target ambisius BEI yang ingin menjaring 50 emiten baru sepanjang 2026βhampir dua kali lipat dari realisasi tahun lalu yang hanya 26 perusahaan.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa penyusutan antrean IPO disebabkan oleh sejumlah perusahaan yang masih melakukan perbaikan laporan keuangan. "Ada yang merevisi laporan keuangan menggunakan data terbaru, ada yang masih melengkapi dokumen, dan ada pula yang belum mendapatkan persetujuan," ujarnya di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Sepanjang tahun ini, baru satu perusahaan yang berhasil melantai di bursa dengan total dana dihimpun Rp500 miliar. Angka ini jauh dari target tahunan BEI, meskipun otoritas bursa masih menyatakan optimisme. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa target 50 emiten masih dalam jalur yang benar. "Sampai saat ini kami masih sesuai target. Jika ada perubahan, akan kami sampaikan," katanya saat ditemui di gedung BEI, Senin (18/5/2026).
Jeffrey menambahkan bahwa keputusan IPO sepenuhnya berada di tangan masing-masing perusahaan. Faktor seperti kondisi pasar, harga saham yang optimal, dan daya serap investor menjadi pertimbangan utama. "Dalam kondisi pasar seperti ini, calon emiten dan penjamin emisi pasti memikirkan apakah IPO bisa terserap dengan baik," jelasnya. Meski demikian, ia memastikan proses persiapan para calon emiten tetap berjalan sesuai jadwal yang direncanakan.
Bagi investor Indonesia, perlambatan IPO ini menjadi sinyal bahwa pasar modal sedang dalam fase konsolidasi. Di satu sisi, BEI berkomitmen mengutamakan kualitas emiten ketimbang kuantitas. "Kami sudah sepakat untuk mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Kesepakatan itu masih berlaku," tegas Jeffrey. Namun, jika target 50 emiten tidak tercapai, hal itu bisa mempengaruhi persepsi pasar terhadap daya tarik bursa domestik di mata investor asing.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah BEI mampu mempertahankan momentum pertumbuhan jumlah emiten di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Dengan pipeline yang menipis, bursa perlu mendorong percepatan proses IPO tanpa mengorbankan standar tata kelola perusahaan.



